WNI di Tokyo Promosikan Budaya Minangkabau lewat Festival
Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) Jepang menggelar festival budaya bertajuk Rang Minang Baralek Gadang di Tokyo pada akhir Mei 2026. Kegiatan yang didukung KBRI Tokyo itu bertujuan mengenalkan warisan budaya Minangkabau kepada masyarakat Jepang melalui pertunjukan seni, kuliner, dan pameran kerajinan tradisional.
Festival: pertunjukan, kuliner, dan pameran
Acara menampilkan berbagai tontonan budaya Minangkabau yang menarik minat pengunjung. Rangkaian acara disusun untuk memberi pengalaman langsung kepada publik Jepang.
- Pertunjukan Randai
- Tari Pasambahan
- Prosesi pernikahan adat Baralek Gadang
- Stan kuliner khas Sumatra Barat
- Pameran songket dan batik Minangkabau
Hadirin menunjukkan antusiasme tinggi terhadap sajian makanan dan kerajinan. Nuansa budaya Nusantara terasa kuat di lokasi acara.
Dukungan KBRI dan pesan Dubes
Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, memberi apresiasi dan dorongan agar WNI aktif mempromosikan budaya Indonesia di negara tujuan.
“Kegiatan ini memiliki arti yang sangat penting. Tidak hanya sebagai ajang silaturahmi masyarakat Indonesia, tetapi juga sebagai upaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang.”
Kartini juga menekankan pentingnya adaptasi budaya lokal oleh diaspora. Menurutnya, warga Indonesia perlu menghormati norma setempat dan memberi kontribusi positif bagi masyarakat Jepang.
“WNI perlu menjaga sensitivitas lokal, menghormati norma dan budaya setempat. Serta berkontribusi positif bagi masyarakat Jepang.”
KBRI Tokyo siap mendukung berbagai inisiatif positif yang mempererat persatuan masyarakat Indonesia di Jepang sekaligus memperkuat hubungan persahabatan kedua negara.
Peran IKM Jepang dan makna bagi diaspora
Ketua IKM Jepang, Hari Koto, menyebut festival ini sebagai sarana strategis untuk memperkenalkan budaya dan pesona Sumatra Barat.
“Khususnya kepada masyarakat Jepang.”
Menurut Hari, kegiatan semacam ini menjadi ruang kolaborasi bagi komunitas diaspora untuk menjaga identitas sekaligus membangun jaringan sosial dengan warga setempat. Kegiatan budaya juga membuka peluang ekonomi kecil lewat penjualan kuliner dan kerajinan.
Dengan dukungan institusi diplomatik dan keterlibatan komunitas, festival di Tokyo bukan sekadar hiburan. Acara ini menjadi medium promosi budaya yang memperkuat ikatan antargenerasi serta hubungan bilateral jangka panjang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Equatorial Guinea, Satu-satunya Negara Afrika Berbahasa Spanyol
Equatorial Guinea adalah satu-satunya negara Afrika yang menjadikan bahasa Spanyol sebagai bahasa resmi, dip...
Hari UFO Nasional: Sejarah dan Makna Peringatan 21 Juli
Hari UFO Nasional diperingati tiap 21 Juli sejak 2019 untuk meningkatkan literasi antariksa dan mendorong ka...
Polri Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Pembiayaan PT PPA
Kortastipidkor Polri tetapkan tiga tersangka kasus korupsi pembiayaan PT PPA, merugikan negara sekitar Rp38,...
Empat Peringatan Penting pada 21 Juli 2026
21 Juli 2026 menandai empat peringatan penting: Hari Nasional Belgia, Pembebasan Guam, Kharchi Puja, dan Har...
20 Juli: Hari Catur, Lompat, Eksplorasi Ruang Angkasa, dan Hari Bulan
20 Juli diperingati untuk Hari Catur Internasional, Hari Lompat Sedunia, Hari Eksplorasi Ruang Angkasa, dan...
Parade Kebaya Pecahkan Rekor MURI, KOWANI Ajak Lestarikan Budaya
Parade perempuan berkebaya di Palembang memecahkan Rekor MURI; KOWANI mengajak pelestarian kebaya sebagai id...