Nasional

MBG-JICA Pilot: Uji Konsep Makan Sekolah ala Jepang

Bagikan:
Anak-anak makan di sekolah sebagai bagian program Makan Bergizi Gratis dan edukasi pangan

BGN RI bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) meluncurkan MBG-JICA Pilot untuk menguji pendekatan pendidikan pangan dan gizi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Uji coba ini diumumkan pada Minggu, 27 September 2026, dengan tujuan meningkatkan kualitas penyelenggaraan makan sekolah sekaligus menjadikan makanan sebagai alat pembelajaran bagi siswa.

Apa itu shokuiku?

Konsep yang dipelajari dari Jepang disebut shokuiku. Pendekatan ini menghubungkan aktivitas makan di sekolah dengan pembelajaran tentang pangan dan gizi. Dengan shokuiku, kegiatan makan tidak sekadar memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga menjadi pengalaman belajar tentang asal, kandungan, dan proses penyediaan makanan.

Empat fokus MBG-JICA Pilot

BGN dan JICA merancang sejumlah fokus untuk dikaji melalui pilot ini. Empat aspek utama yang diperhatikan adalah:

  • Pengurangan sampah dan sisa makanan (food waste) dalam penyelenggaraan makan di sekolah.
  • Peningkatan efisiensi proses pengiriman dan penyajian makanan.
  • Penguatan keterlibatan siswa dalam kegiatan makan secara aktif.
  • Pengembangan pendidikan pangan dan gizi yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Dua komponen pilot

Rancangan pilot terdiri atas dua komponen yang saling terkait. Pertama, Shokkan Trial yang dilaksanakan di tingkat SPPG untuk mempelajari dan mengoptimalkan proses penyediaan layanan makanan. Kedua, Shokuiku Activities di tingkat sekolah yang memberi siswa pengalaman langsung mengenai makanan, nutrisi, dan pola makan.

Mendorong keterlibatan siswa

Selain aspek tata kelola, pilot juga menilai bagaimana kegiatan makan dapat mendorong interaksi dan keterlibatan aktif siswa. Siswa diharapkan tidak hanya menerima makanan, tetapi mampu memahami jenis makanan, nilai gizi, serta peran pihak-pihak yang menyediakannya.

"Jadi, makanan bukan hanya diterima dan dikonsumsi. Tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses belajar mengenai pangan, gizi, serta pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaannya," ujar Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea dalam keterangannya, Minggu, 27 September 2026.

Pendekatan ini diarahkan membangun pemahaman siswa melalui pengalaman langsung sehingga kegiatan makan di sekolah memiliki dimensi pendidikan selain fungsi pemenuhan gizi.

"Harapannya, pembelajaran dari Jepang dapat menjadi referensi untuk terus mengembangkan MBG sesuai dengan konteks Indonesia," tambah Prima.

Penutup

BGN menegaskan pengalaman Jepang tidak akan diterapkan secara mentah, melainkan dijadikan bahan pembelajaran untuk menyesuaikan MBG dengan kondisi lokal. Hasil MBG-JICA Pilot diharapkan memberikan gambaran yang lebih utuh tentang cara meningkatkan layanan sekaligus memperkuat edukasi pangan dan gizi di sekolah.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait