Nasional

KPAI: Standar MBG Balita Harus Disesuaikan dengan Usia

Bagikan:
Ilustrasi makanan MBG untuk balita dan pengawasan gizi 1000 hari pertama

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta standar makanan MBG untuk balita disesuaikan dengan usia dan tahapan tumbuh kembang anak agar pemberian nutrisi efektif dan aman. Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua KPAI Jasra Putra di Jakarta, Minggu, 27 September 2026, menyoroti pentingnya penyesuaian tekstur, ukuran, porsi, dan kepadatan gizi.

Penyesuaian teknis makanan MBG

KPAI menekankan bahwa aspek teknis seperti tekstur dan ukuran potongan makanan harus disesuaikan dengan kemampuan makan balita. Tanpa penyesuaian itu, makanan yang tercatat disalurkan secara administratif belum tentu memberikan manfaat gizi bagi anak secara biologis.

Jangan sampai makanan terserap 100 persen secara administrasi, tetapi manfaatnya secara biologis tidak sampai kepada anak. Kondisi tersebut harus kita cegah agar pemberian MBG benar-benar memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak.

Secara rinci, KPAI mengingatkan agar program memperhatikan beberapa komponen utama.

  • Tekstur makanan sesuai usia
  • Ukuran potongan yang aman untuk dikunyah
  • Porsi yang sepadan dengan kebutuhan energi
  • Kepadatan zat gizi yang tepat untuk tumbuh kembang
  • Kemampuan makan balita saat menerima makanan

Kualitas, keamanan, dan ukuran keberhasilan

Jasra menegaskan keberhasilan program MBG, termasuk MBG 3B, tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang dibagikan. Kualitas, keamanan, dan manfaat gizi bagi ibu serta anak harus jadi tolok ukur utama.

Ukuran keberhasilan MBG 3B pada akhirnya bukan berapa banyak makanan yang dibagikan. Ukurannya adalah apakah ibu dan anak mendapatkan makanan yang aman, tepat, bermutu dan memberikan manfaat.

Penekanan ini mendorong pelaksana program untuk memperbaiki standar mutu bahan, pengolahan, dan distribusi agar manfaat gizi benar-benar terserap oleh penerima manfaat.

Pengawasan sejak awal dan fokus 1.000 hari pertama

KPAI meminta pengawasan ketat dilaksanakan sejak awal pelaksanaan program untuk mencegah masalah yang berdampak pada penerima manfaat. Jasra mengingatkan bahwa periode seribu hari pertama kehidupan adalah masa krusial yang tidak dapat ditunda perbaikannya.

Seribu hari pertama kehidupan terus berjalan dan tidak pernah mundur. Karena itu jangan menunggu masalah muncul baru kita memperbaiki sistem.

Quality control harus menjadi bagian integral pelaksanaan MBG agar pemenuhan gizi berlangsung aman, tepat, dan sesuai kebutuhan anak.

Quality control harus dilakukan sejak awal pelaksanaan program, bukan menunggu persoalan muncul dan anak menjadi korban. Pengawasan yang kuat diperlukan untuk mencegah risiko serta memastikan MBG aman dan bermanfaat bagi anak.

Implikasi dan langkah ke depan

Rekomendasi KPAI mendorong pemerintah daerah, penyelenggara program, dan penyedia logistik untuk meninjau standar teknis MBG. Perubahan standar harus mencakup pedoman tekstur, porsi, dan kandungan gizi yang disesuaikan menurut kelompok usia.

Jika diimplementasikan, langkah ini berpotensi meningkatkan efektivitas pemenuhan gizi pada masa kritis tumbuh kembang anak dan mengurangi risiko kegagalan intervensi gizi.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait