Lokal

Langsa Multikultur Fest 2026: Hutan Kota Jadi Ruang Keragaman

Bagikan:
Suasana Langsa Multikultur Fest 2026 di Hutan Kota Langsa dengan panggung, pengunjung, dan stan seni budaya

LANGSA — Sabtu (18/7/2026) Hutan Kota Langsa berubah menjadi pusat perayaan keberagaman saat Langsa Multikultur Fest (LMF) 2026 digelar. Festival yang dibuka Wali Kota Jeffry Sentana S Putra SE itu menyatukan seni, tradisi lisan, sastra, edukasi, dan dialog budaya untuk memperkenalkan kembali memori kolektif Kota Langsa kepada publik.

Kegiatan yang interaktif dan inklusif

Berbeda dari pagelaran budaya biasa, LMF mendorong partisipasi masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang. Pada hari itu pengunjung dapat mengikuti lomba, pertunjukan, dan ruang belajar budaya secara langsung.

  • Lomba mendongeng dan cipta puisi
  • Desain poster dan flashmob
  • Voice over challenge, slam poetry, dan read aloud
  • Kids Corner serta diskusi budaya bertema "Langsa: Sejarah, Memori Kolektif, dan Seni Budaya"
  • Pameran yang mengangkat sejarah dan kekayaan budaya Kota Langsa

Dasar festival: riset budaya lokal

Ketua panitia, Dr Mufti Riyani SPd MPd, menyatakan bahwa kegiatan ini lahir dari penelitian tentang sejarah lokal dan kehidupan multikultural masyarakat Langsa. Festival dimaksudkan sebagai ruang publik untuk belajar sekaligus merayakan perbedaan.

Kami ingin menjadikan ruang publik sebagai ruang belajar budaya yang menyenangkan. Melalui festival ini, generasi muda diajak mengenal kembali akar budayanya sekaligus memahami bahwa keberagaman adalah kekuatan.

Dukungan pemerintah dan mitra

Acara dihadiri oleh pejabat daerah, unsur Forkopimda, akademisi, seniman, komunitas, pelajar, dan masyarakat umum. Pemerintah Kota Langsa menyatakan kesiapan mendukung kegiatan yang mengembangkan seni, budaya, dan ekonomi kreatif lokal.

LMF 2026 juga mendapatkan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana skema Pendayagunaan Ruang Publik. Dukungan ini memperkuat tujuan festival sebagai wadah partisipatif, bukan sekadar hiburan.

Pesan pelestarian nilai dan prospek pariwisata

Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Langsa, Drs H Mursyidin Budiman, menekankan pentingnya meneruskan nilai-nilai adat kepada generasi berikutnya agar identitas budaya tetap hidup.

Budaya bukan sekadar warisan leluhur, tetapi menjadi perekat kehidupan masyarakat. Karena itu, kegiatan seperti ini sangat penting untuk menanamkan rasa bangga terhadap identitas budaya sekaligus memperkuat persaudaraan.

Direktur Utama PT Pekola, Hj T Ratna Lailasari SH MH, menyambut baik pemilihan Hutan Kota sebagai lokasi, karena selain fungsi ekologis, kawasan ini dinilai potensial sebagai ruang publik berkegiatan seni dan pariwisata.

Kami berharap Hutan Kota terus dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan positif seperti ini sehingga semakin dekat dengan masyarakat dan menjadi salah satu ikon kebanggaan Kota Langsa.

LMF 2026 menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat mampu menghadirkan ruang bersama untuk merawat memori kolektif. Dari Hutan Kota Langsa tersampaikan pesan kuat: keberagaman bukan hanya fakta sejarah, melainkan modal utama membangun masa depan kota yang harmonis dan berbudaya.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait