KRI Sriwijaya-100 Dimodifikasi untuk Dukung Penanganan Bencana
KRI Sriwijaya-100 akan dimodifikasi agar bisa mendukung operasi helikopter dan drone untuk penanggulangan bencana di wilayah sulit dijangkau. Perintah itu disampaikan dalam Rapat Kabinet Terbatas pada 7 September 2026 dan dikonfirmasi Kepala Bakom Muhammad Qodari pada 28 September 2026. Modifikasi ditujukan untuk memperkuat peran kapal dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya misi kemanusiaan.
Perintah modifikasi dan fungsinya
Presiden Prabowo Subianto memberi arahan modifikasi agar KRI Sriwijaya-100 dapat mengoperasikan helikopter dan drone. Langkah ini tidak hanya untuk memperkuat kemampuan tempur, tetapi juga memperluas fungsi kapal sebagai pangkalan bantuan ketika terjadi bencana.
"Kemampuan tersebut diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan," kata Qodari.
Kegunaan dalam penanggulangan bencana
Indonesia rentan terhadap berbagai bencana, mulai dari gempa hingga kebakaran hutan. Dalam banyak kejadian, akses darat seperti jalan atau pelabuhan bisa terganggu. KRI Sriwijaya-100 yang mampu mengangkut helikopter dan drone diharapkan mempercepat distribusi bantuan dan evakuasi ke daerah terpencil.
- Jenis ancaman: gempa bumi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan.
- Peran kapal: pangkalan udara bergerak untuk helikopter dan platform pengawasan drone.
- Manfaat: percepatan pengiriman personel, logistik, dan evakuasi saat akses darat terputus.
"Dalam situasi seperti itu, tantangannya bukan hanya menyediakan bantuan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana bantuan, personel, dan kebutuhan pokok dapat segera sampai kepada masyarakat yang membutuhkan," ujar Qodari.
Makna strategis bagi kesiapsiagaan nasional
Penguatan KRI Sriwijaya-100 dipandang lebih luas dari sekadar modernisasi alutsista. Kapal ini diarahkan untuk meningkatkan kesiapan negara dalam merespons keadaan darurat dan mendukung operasi kemanusiaan. Mobilitas laut yang cepat dinilai penting mengingat karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Qodari menekankan bahwa pengembangan kemampuan kapal merupakan bagian dari upaya membangun Indonesia yang lebih tangguh dan mandiri dalam menghadapi ancaman non-militer sekaligus menjaga keamanan maritim.
Dengan kemampuan mendukung pergerakan helikopter serta membawa kebutuhan bantuan, KRI Sriwijaya-100 diharapkan memberikan solusi praktis ketika infrastruktur darat tidak dapat diandalkan. Keberadaan kapal semacam ini dianggap penting untuk mempercepat respons dan mengurangi dampak bencana bagi masyarakat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Hari Kesaktian Pancasila 2026: Bukan Libur, Ini Jadwal Upacara
Hari Kesaktian Pancasila diperingati 1 Oktober 2026; tidak termasuk libur nasional. Simak jadwal upacara di...
Komnas Perempuan Desak Kepastian Layanan Kesehatan Reproduksi Korban
Komnas Perempuan desak kepastian akses layanan kesehatan reproduksi bagi korban kekerasan seksual yang menga...
Qodari: Pendidikan Gratis Perluas Akses Pendidikan Berkualitas
Qodari menyatakan pendidikan gratis dari TK hingga perguruan tinggi akan membuka akses pendidikan berkualita...
BGN Adopsi Shokuiku dan Kyushoku untuk Perkuat Program MBG
BGN adopsi Shokuiku dan Kyushoku ala Jepang untuk memperkuat Program Makan Bergizi Gratis, fokus pada pendid...
Komnas: Korban Kekerasan Seksual Sering Dipaksa Aborsi
Komnas Perempuan: 203 kasus pemaksaan aborsi; korban menghadapi tekanan dan sering mendapat pertolongan terl...
Wapres Pastikan Penanganan Korban Keracunan di Batang
Wapres Gibran ke SDN Pasusukan (28/9/2026) memastikan penanganan korban dugaan keracunan makanan dan minta i...