Ekonomi

Koperasi Pesantren Dorong Produk Pertanian ke Pasar Ritel

Bagikan:
Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq menyiapkan produk pertanian untuk pasar ritel modern

Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Kabupaten Bandung membangun ekosistem pertanian yang menghubungkan petani langsung ke pasar ritel modern. Koperasi mengonsolidasikan hasil anggota untuk memenuhi kebutuhan volume ritel, menjamin penyerapan produk, dan memastikan pembayaran langsung kepada petani. Program ini tumbuh seiring dukungan pembiayaan dari LPDB Koperasi sejak 2020.

Model bisnis dan kepastian pasar

Koperasi mengatur produksi berdasarkan informasi kebutuhan pasar. Sebelum produksi dimulai, koperasi memastikan komoditas dan volume yang dibutuhkan pasar. Pola tanam disesuaikan bersama petani sehingga ada kepastian pasar saat panen.

"Jadi hulunya dan hilirnya jelas. Kami tahu pasar membutuhkan apa, berapa volumenya, kemudian kami atur bersama petani apa yang harus ditanam," kata Setia Irawan, Ketua Pengurus Koperasi.

Koperasi bertindak sebagai offtaker yang menyerap produksi, bukan sekadar menghimpun dan menjual. Kebijakan penting lainnya adalah pembayaran dilakukan segera setelah produk diserahkan, sehingga petani tak terbebani arus kas.

"Petani kami dibayar langsung, tidak tempo. Karena kalau koperasi menerima pembayaran dari pasar kemudian petani harus menunggu, itu akan mengganggu cash flow petani," ujar Setia.

Pertumbuhan petani dan volume produksi

Sejak awal, jaringan petani yang terhubung dengan Al-Ittifaq meningkat signifikan. Jumlah pemasok naik dari sekitar 120 petani menjadi sekitar 280–300 petani. Volume produksi harian juga tumbuh dari 1,7–2 ton menjadi sekitar 7–8 ton per hari.

Segmen pasar dan jenis produk

Al-Ittifaq kini memasok berbagai segmen pasar dan produk. Segmen pasar yang dilayani antara lain:

  • Ritel modern (jaringan Super Indo, Yogya)
  • Hotel, restoran, dan katering
  • Kebutuhan dapur pusat

Produk yang dikelola meliputi sayuran, buah-buahan, dan rempah-rempah. Memasuki pasar modern menuntut standar kualitas, kontinuitas pasokan, dan keamanan pangan.

Peran pembiayaan LPDB

Penguatan kapasitas koperasi tak lepas dari ketersediaan modal kerja. Al-Ittifaq sudah mengenal LPDB sejak 2014 dan menerima pembiayaan pertama pada 2020, saat pandemi. Dana bergulir tersebut membantu memperkuat aset dan kemampuan usaha koperasi.

Dengan modal yang lebih kuat, koperasi dapat membeli input pertanian dalam jumlah lebih besar, menekan biaya, dan menjaga kesinambungan rantai pasok.

Ke depan: perluasan akses pasar dan jejaring

Al-Ittifaq berharap kemitraan dengan LPDB berkembang tidak hanya dalam bentuk pembiayaan, tetapi juga dalam penguatan akses pasar dan business matching. Koperasi ingin LPDB menjadi jembatan untuk membuka jejaring usaha agar produk petani terserap lebih luas.

"Kami berharap LPDB bukan hanya menjadi lembaga pembiayaan, tetapi juga bisa menjadi jembatan untuk mempertemukan koperasi dengan pasar," kata Setia.

Pengalaman Al-Ittifaq menunjukkan bahwa mengintegrasikan produksi, pembiayaan, dan akses pasar dalam satu ekosistem memperkuat posisi koperasi dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Rafi Akbar
Penulis
Rafi Akbar

Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.

Berita Terkait