Generasi Muda Diminta Perkuat Nilai Pancasila Lewat Konten Digital
Travel blogger dan digital strategist Albert Ghana Pratama mengajak generasi muda memanfaatkan konten digital untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila. Pernyataan itu disampaikan pada Coaching Clinic Festival Gita Indonesia 2026 di Galeri Tri Prasetya RRI, Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026. Menurut Albert, media sosial berperan besar dalam membentuk pandangan dan perilaku masyarakat, sehingga menjadi medium strategis untuk menguatkan nilai kebangsaan.
Pemanfaatan media sosial untuk pesan positif
Albert menilai hampir setiap orang kini memiliki gawai yang bisa digunakan untuk memproduksi dan menyebarkan konten. Karena itu, generasi muda memiliki peluang luas untuk menyampaikan pesan positif kepada publik. Media sosial, katanya, memengaruhi keputusan publik, mulai tren konsumsi hingga gaya hidup.
“Dengan konten digital, maka kita punya jangkauan yang luas, sehingga kita bisa mencapai atau meraih banyak sekali orang. Selain itu juga banyak menjangkau populasi dalam satu waktu hanya dengan alat yang kita miliki,”
Ciri konten yang mengangkat nilai Pancasila
Menurut Albert, nilai Pancasila sebenarnya sudah hidup dalam keseharian masyarakat. Namun nilai tersebut perlu disadarkan kembali dan dikemas agar relevan untuk audiens muda. Konten yang efektif harus menarik sejak awal dan membangun kedekatan emosional dengan audiens.
“Ada yang bilang mungkin kita melupakan Pancasila, bagi saya sih enggak, karena setiap hari kita menghidupi nilainya cuma kita tidak menyadarinya. Makanya kita sadarkan kembali, dan kemudian kita angkat nilai-nilai Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam berkonten,”
Ia menegaskan bahwa pengemasan tidak harus berwujud teks formal. Konten dapat berbentuk cerita keseharian yang mudah dicerna. Seperti yang dikatakannya:
“Dalam konteks Pancasila disini, bagaimana kita berkonten dengan nilai-nilai Pancasila. Pancasila itu bukan soal teks, tapi soal rasa,”
Konsistensi dan literasi digital
Albert menekankan pentingnya konsistensi dalam produksi konten. Kreator perlu memahami literasi digital untuk menghadapi tantangan ruang daring. Pemahaman ini berguna untuk menangkal perundungan daring, ujaran kebencian, dan risiko lain yang dapat mengganggu proses berkonten.
Menurutnya, kombinasi antara kreativitas, konsistensi, dan kapasitas literasi akan membuat konten lebih produktif dan berdampak positif bagi masyarakat.
Rekomendasi praktis untuk kreator
- Mulai dengan cerita sehari-hari yang relevan untuk audiens;
- Buat daya tarik di detik pertama konten;
- Bangun kedekatan emosional lewat narasi autentik;
- Pelajari literasi digital untuk mengelola risiko dan komentar negatif.
Dengan pendekatan seperti itu, Albert percaya generasi muda dapat mengembalikan dan memperkuat nilai-nilai Pancasila melalui bahasa dan format yang mereka kuasai di platform digital.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Guru PPPK di Daerah 3T Diprioritaskan Ikut Seleksi PNS
DPR minta guru PPPK di daerah 3T diprioritaskan ikut seleksi PNS 2027 sebagai bentuk penghargaan dan upaya m...
MenHAM: Pelayanan Pemerintahan untuk Papua Gratis, Stop Bawa Uang ke Jakarta
MenHAM Natalius Pigai menegaskan pelayanan administrasi dan pembangunan Papua di pemerintah pusat gratis; ia...
Wamentrans: Calon Transmigran Wajib Ikut Pelatihan Keterampilan
Wamentrans Viva Yoga menegaskan calon transmigran wajib menjalani verifikasi, pelatihan, dan pendidikan tekn...
KLH Hentikan Pembuangan Limbah Ilegal di Empat Lokasi Sungai Cileungsi
KLH menghentikan pembuangan limbah ilegal di empat lokasi sepanjang Sungai Cileungsi dan memasang papan peri...
Polri Kirim 2,1 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT
Polri mengirim 2.102 kg logistik dari Surabaya ke Labuan Bajo pada 20 Agustus 2026 untuk korban gempa NTT, m...
Pembiayaan UMKM: Dari Kuantitas ke Produktivitas
Fauzi Hariri: besarnya pembiayaan UMKM belum tentu meningkatkan produktivitas; fokus harus memastikan dana b...