Lokal

Dinkes Sumut: Nasi, Ikan, dan Buah MBG Karo Terkontaminasi Bakteri

Bagikan:
Dinas Kesehatan Sumut umumkan hasil laboratorium makanan MBG Karo mengandung bakteri berbahaya

MEDAN — Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mengumumkan hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menyebabkan keracunan ratusan siswa di Kabupaten Karo. Hasil pemeriksaan tertanggal 16 Agustus 2026 menunjukkan tiga jenis bakteri berbahaya dengan kadar yang melampaui ambang batas aman.

Hasil laboratorium: jenis bakteri dan sampel terkontaminasi

Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumut mencatat temuan tiga bakteri pada sampel yang diuji. Berdasarkan surat hasil pemeriksaan bernomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026, rincian temuan adalah sebagai berikut:

  • Sampel nasi dinyatakan positif mengandung Bacillus cereus.
  • Sampel ikan dencis bersaus dari sekolah positif mengandung Staphylococcus aureus.
  • Sampel buah melon terkontaminasi Escherichia coli atau E. coli.

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rizal, menegaskan temuan ini bukan sekadar keberadaan bakteri biasa, tetapi sudah berada pada level yang membahayakan kesehatan.

“Bakteri itu memang secara alami ada di mana-mana, termasuk di dalam makanan. Tetapi menjadi berbahaya ketika jumlah atau volumenya sudah melebihi ambang batas atau standar yang ditentukan,”

Standar interpretasi dan kewenangan rilis hasil

Hamid menjelaskan bahwa interpretasi teknis tentang kadar maksimal tiap bakteri menjadi wewenang pihak yang memiliki kompetensi khusus dalam pemeriksaan laboratorium pangan. Ia juga mengingatkan bahwa pihak yang meminta pemeriksaan mempunyai kewenangan untuk merilis dan menafsirkan hasil resmi.

“Yang meminta pemeriksaan itu yang mempunyai kewenangan untuk merilis dan menginterpretasikan hasil resminya. Hasil laboratorium ini menjadi salah satu bagian penting dalam proses investigasi,”

SOP penanganan kasus dugaan keracunan makanan

Dinas Kesehatan Sumut menerapkan prosedur operasional standar empat langkah yang dijalankan bersamaan dalam menangani dugaan keracunan makanan:

  1. Penanganan kegawatdaruratan terhadap korban atau suspek untuk memastikan pertolongan medis segera.
  2. Pemeriksaan laboratorium terhadap makanan dan bahan lain yang diduga menjadi sumber gangguan kesehatan.
  3. Identifikasi dampak kesehatan lanjutan pada korban, bukan hanya gejala awal seperti mual dan muntah.
  4. Koordinasi lintas sektor, termasuk Dinas Pendidikan, rumah sakit, serta pengaturan pembiayaan medis jika diperlukan.

“Yang pertama tentu penanganan gawat darurat. Korban atau suspek harus segera mendapatkan pertolongan,”

Prioritas penanganan dan langkah berikutnya

Hamid menekankan penanganan korban tetap menjadi prioritas utama sembari investigasi dan pemeriksaan sumber makanan berlangsung. Ia mengingatkan bahwa hasil laboratorium harus dikaitkan dengan kondisi klinis korban serta proses penyediaan dan distribusi makanan secara menyeluruh sebelum ditarik kesimpulan akhir.

Proses investigasi lanjutan serta koordinasi antarinstansi terus berjalan untuk memastikan penyebab kejadian jelas dan langkah mitigasi diterapkan agar kasus serupa tidak terulang.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait