Kemenkes Pantau Dampak Kabut Asap Karhutla pada Anak
Plt. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Budiman menyatakan Kementerian Kesehatan terus memantau dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terhadap kesehatan, khususnya pada anak-anak. Pemantauan berlangsung di tujuh provinsi yang meliputi 63 kabupaten/kota, dengan beberapa wilayah masih berstatus berbahaya.
Wilayah terdampak dan status pemantauan
Pemantauan difokuskan pada wilayah yang konsisten mencatat kualitas udara buruk. Tim gabungan menilai kondisi udara dan menyiapkan respons cepat untuk mencegah dampak kesehatan serius. Data sementara belum menunjukkan lonjakan kasus parah pada anak-anak.
Dampak kesehatan pada anak
Budiman menjelaskan kabut asap berpotensi memicu penyakit saluran pernapasan akut. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, mendapat perhatian khusus dalam pantauan dan intervensi kesehatan.
"Kalau kita bicara dampak dari kabut asap ini tentu ini berdampak terhadap kesehatan ya, terutama adalah penyakit ISPA. Nah, ISPA ini juga menyasar atau dapat mempengaruhi kesehatan bagi kelompok rentan, salah satunya adalah anak-anak,"
Meski begitu, hingga laporan terakhir Budiman menyebut belum ada data anak terdampak yang mengalami kondisi parah atau berlanjut menjadi pneumonia. Informasi yang masuk ke Kementerian Kesehatan belum menunjukkan kasus dengan komplikasi serius.
"Sampai hari ini data yang kita dapat itu tidak ada ya, kita belum mendapatkan informasi. Dan data yang masuk ke kita juga tidak ada yang sampai apa, berlanjut parah gitu ya,"
Persiapan layanan kesehatan
Pemerintah menyiapkan fasilitas kesehatan dengan obat-obatan yang memadai untuk menangani gangguan pernapasan. Layanan diperkuat mulai dari puskesmas hingga fasilitas rujukan untuk memastikan ketersediaan perawatan dasar dan rujukan bila diperlukan.
Beberapa langkah yang diambil antara lain:
- Pendirian pos kesehatan terpadu bekerja sama dengan pihak terkait.
- Penyediaan rumah oksigen di lokasi terdampak.
- Puskesmas menyiapkan oksigen konsentrator dan tabung oksigen.
"Kita memperkuat layanan kesehatan kita, kita sudah memperluas mulai dari tingkat puskesmas sampai dengan layanan kesehatan rujukan. Sudah kita siapkan dan beberapa wilayah juga kita buat pos-pos kesehatan terpadu nanti yang bekerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti BNPB,"
Situasi terkini dan langkah ke depan
Kementerian Kesehatan terus mengumpulkan data dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mempercepat respons kesehatan. Fokus utama tetap pada pencegahan komplikasi pada kelompok rentan dan memastikan ketersediaan layanan serta obat di wilayah terdampak.
Pemantauan lanjutan dan pembaruan data akan disampaikan apabila ditemukan perubahan signifikan pada kondisi kesehatan masyarakat, terutama pada anak-anak.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Dokter Ingatkan Persiapan Kesehatan Jemaah Sebelum Berangkat Haji
Dokter sarankan pemeriksaan kesehatan 2–6 bulan sebelum haji; waspadai infeksi pernapasan, komorbid, dan kon...
Komisi IX Minta Kemenkes Peringatkan Warga soal Super Flu
Komisi IX minta Kemenkes aktif peringatkan warga soal influenza A(H3N2) subclade K yang terdeteksi di 13 pro...
Prof. Deby Bawa Sains Regeneratif dan Kebaya Nusantara ke Venice
Prof. Deby Vinski tampil sebagai pembicara di The Longevity Code Gala Dinner Venice 2026, memperkenalkan sai...
JKN Jangkau 98,6% Warga, BPJS Tekankan Prinsip Gotong Royong
JKN menjangkau 98,6% atau 286 juta warga untuk perlindungan finansial; BPJS dan DJSN tekankan gotong royong...
BPJS Kesehatan Berdayakan Cendekia Muda untuk Transformasi Layanan
BPJS Kesehatan memberdayakan pelajar berprestasi sebagai duta layanan dalam final kompetisi nasional, 22 Sep...
Wali Kota Bekasi Imbau Warga Hindari Bakar Sampah
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengimbau warga tidak membakar sampah karena risiko ISPA dan kebakaran TPA; Pe...