Ekonomi

KAI Kelola 2.997,99 Ton Limbah Operasional pada 2025

Bagikan:
Ilustrasi proses pengelolaan limbah operasional kereta api dan daur ulang material

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengelola 2.997,99 ton limbah daur ulang sepanjang 2025, naik 36,31 persen dibanding 2024. Data itu dirilis perusahaan pada Rabu, 5 Agustus 2026, sebagai bagian dari upaya menerapkan prinsip ekonomi sirkular untuk mempertahankan nilai guna material operasional.

Capaian pengelolaan limbah 2025

Volume pengelolaan material operasional KAI mencapai hampir tiga ribu ton pada 2025. Peningkatan ini mendorong efisiensi pemanfaatan kembali material di lingkungan perkeretaapian. Upaya tersebut sejalan dengan proyeksi global dan kebijakan nasional terkait pengurangan ekstraksi sumber daya.

Praktik sirkularitas dan mitra pengelola

KAI menerapkan pemilahan limbah, termasuk kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Penanganan limbah B3 diserahkan ke mitra pengelola yang memiliki sertifikat resmi. Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi residu dan menjaga kepatuhan lingkungan.

“Penerapan ekonomi sirkular memberi ruang agar material yang masih memiliki nilai dapat digunakan kembali. Melalui pengelolaan yang terukur, KAI berupaya mengurangi residu, menjaga kepatuhan lingkungan, serta mendukung ketersediaan material bagi kegiatan industri,”

— Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba.

Beberapa hasil pemanfaatan kembali telah disalurkan ke mitra industri. Perusahaan seperti PT Krakatau Steel memanfaatkan sisa material besi dan baja kereta. Sementara PT Pindad dan PT Barata Indonesia mengolah aset menjadi produk baru.

Penghapusbukuan aset dan proses tender

Unit kerja KAI, seperti balai yasa dan stasiun, rutin melaporkan pengelolaan sampah dan aset. Sarana perkeretaapian berusia 20–40 tahun dialihkan menjadi Aktiva Tetap Diberhentikan dari Operasi (ATDO). Aset bekas dihapuskan secara terbuka melalui proses tender badan hukum.

Penjualan material hanya dilakukan setelah mendapat persetujuan resmi dari kementerian terkait. Mekanisme ini dimaksudkan untuk menjamin transparansi dan kepatuhan regulasi.

Tata kelola dan evaluasi mitra

Manajemen KAI menegaskan evaluasi berkala terhadap mitra pengelola limbah. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan tata kelola dan jaminan standar operasional lingkungan.

“Ekonomi sirkular membutuhkan pengelolaan yang konsisten sejak material digunakan hingga memasuki akhir masa manfaatnya. KAI terus memperkuat proses tersebut agar kegiatan operasional semakin efisien, tertib, dan memberi nilai tambah bagi lingkungan serta perekonomian nasional,”

— Executive Vice President Corporate Secretary KAI, Wisnu Pramudya.

Dampak dan prospek

Praktik daur ulang KAI membantu mengurangi kebutuhan material primer dan menjaga nilai ekonomi aset. Ke depan, konsistensi pengelolaan dan kolaborasi dengan industri pengolahan akan menentukan keberlanjutan program sirkularitas. Inisiatif ini juga mendukung target nasional untuk mengintegrasikan ekonomi sirkular dalam perencanaan pembangunan jangka panjang.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait