Ekonomi

IHSG Ditutup Turun 1,11% ke 6.313,57, Aliran Modal Asing Keluar

Bagikan:
Grafik pergerakan IHSG menunjukkan penurunan pada 22 September 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 71,16 poin atau turun 1,11 persen pada penutupan sesi I perdagangan Selasa, 22 September 2026, ke level 6.313,57. Penurunan dipengaruhi aksi jual investor asing dan sentimen eksternal seperti penurunan harga minyak.

Pergerakan IHSG pada sesi I

IHSG dibuka pada level 6.392,34 dan sempat menyentuh titik tertinggi 6.423,84 serta terendah 6.277,69 selama sesi pertama. Pada perdagangan hari sebelumnya, Senin (21/9/2026), indeks juga melemah 0,88 persen ke level 6.384,73.

Aliran modal asing dan saham yang paling banyak dijual

Penurunan IHSG masih disertai aliran keluar modal asing. Investor asing melakukan aksi jual bersih sebesar Rp503,12 miliar pada sesi I. Saham-saham yang paling banyak dijual asing antara lain:

  • BMRI
  • ANTM
  • BBCA
  • TLKM
  • MDKA

Sentimen global dan harga minyak

Tekanan eksternal juga memperberat laju IHSG. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 4,5 persen mendekati level USD95 per barel, sementara harga minyak Brent turun lebih dari 3 persen ke sekitar USD100 per barel. Penurunan harga minyak dan pergerakan bursa global dinilai berpotensi membatasi pelemahan, namun belum cukup menahan arus jual.

Penyesuaian aturan BEI dan dampaknya

Terdapat pula perhatian pada kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyesuaikan ketentuan batas harga terendah minimum dan mekanisme Auto Rejection. Penyesuaian ini berlaku untuk efek ekuitas dan Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) yang diperdagangkan di Pasar Reguler maupun Pasar Tunai.

Tim Analis Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa IHSG akan menguji level 6.300-6.350 dan menilai penyesuaian BEI dapat membatasi pelemahan. Mereka juga mencatat penyesuaian harga minimum saham dari semula Rp50 menjadi Rp1 efektif mulai 28 September 2026, disertai perubahan ketentuan ARA dan ARB.

Phintraco menilai kebijakan penetapan harga minimum menjadi Rp1 dan penyesuaian batas ARB nominal berpotensi meningkatkan likuiditas pasar serta mengoptimalkan mekanisme price discovery. Namun, mereka juga mengingatkan risiko kenaikan volatilitas dan potensi kerugian modal yang lebih besar.

Menurut Tim Phintraco: penyesuaian ini akan membuka jalan keluarnya investor yang modalnya terjebak pada saham ARB Rp50, namun berisiko memicu spekulasi dan jebakan bagi investor pemula.

Implikasi ke depan

Di tengah penyesuaian aturan dan tekanan eksternal, pelaku pasar perlu mewaspadai potensi lonjakan volatilitas terutama pada saham di bawah Rp50 per saham. Sementara itu, kebijakan BEI berpeluang meningkatkan likuiditas jangka menengah bila diikuti mekanisme pengawasan yang baik.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait