IHSG Berpotensi Menguat, Didorong Data Ekonomi dan Meredanya Geopolitik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini setelah ditutup menguat pada level 6.351 atau naik 0,50 persen pada penutupan Rabu. Prediksi itu disampaikan Tim Analis Phintraco Sekuritas pada Kamis, 6 Agustus 2026, yang menilai indeks berpotensi menguji level 6.370-6.400.
Sentimen pasar yang mendukung
Tim analis menyebut beberapa faktor yang mendorong optimisme investor. Pertama, rilis data ekonomi domestik yang menunjukkan perbaikan pada beberapa indikator. Kedua, meredanya ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah.
"Beberapa data indikator ekonomi domestik yang membaik, dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sementara itu, investor optimis akan kinerja emiten, menjadi beberapa faktor yang mendorong penguatan indeks,"
Sentimen positif ini dinilai dapat menopang laju IHSG meski ada risiko dari aksi jual oleh investor asing.
Data ekonomi makro: pertumbuhan, pengangguran, kemiskinan
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 sebesar 5,29% (yoy). Angka ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang berada di level 5,1 persen, namun menjadi pertumbuhan tahunan terendah sejak triwulan III 2025.
Penurunan pertumbuhan ditengarai karena konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah yang melambat dibandingkan triwulan I 2026. Meski demikian, sejumlah indikator ketenagakerjaan dan kesejahteraan menunjukkan perbaikan.
- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun ke 4,65% pada Mei 2026 dari 4,68% pada Februari 2026.
- Tingkat kemiskinan turun ke 8,07% pada Maret 2026, posisi terendah sejak 1999.
- Jumlah penduduk miskin tercatat 22,93 juta orang pada Maret 2026, turun sekitar 430 ribu dari September 2025.
"Penurunan tersebut membuat tingkat pengangguran di Indonesia pada level terendah sejak tahun 1994,"
Aktivitas investor dan saham yang paling banyak dijual
Meski sentimen makro positif, pasar mencatat aksi jual bersih oleh investor asing pada hari Rabu. Net sell asing mencapai sekitar Rp187,59 miliar. Saham yang paling banyak dijual adalah:
- TPIA
- TLKM
- BBRI
- ASII
- CPIN
Tekanan jual asing ini menjadi salah satu risiko yang dapat menahan penguatan IHSG dalam jangka pendek.
Kebijakan fiskal dan implikasinya
Pemerintah juga mengumumkan penundaan implementasi pemungutan pajak melalui marketplace yang semula direncanakan berlaku efektif Agustus 2026. Keputusan ini berpotensi meredam kekhawatiran pelaku pasar terkait beban fiskal sektor e-commerce dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, kombinasi perbaikan data ekonomi dan meredanya ketegangan geopolitik memberi pijakan bagi IHSG untuk melanjutkan kenaikan. Namun, aliran modal asing dan perkembangan kebijakan fiskal tetap menjadi faktor kunci yang perlu diwaspadai investor dalam beberapa hari mendatang.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Tarik Tunai Tanpa Kartu: 5 Situasi Darurat dan Solusinya
Tarik tunai tanpa kartu lewat GoPay memungkinkan Anda mencairkan saldo di minimarket saat ATM atau kartu tak...
Ekspor Florikultura Capai Rp3,51 Triliun, Diminati 96 Negara
Ekspor florikultura Indonesia mencapai Rp3,51 triliun hingga 14 September 2026, melibatkan 59,6 juta komodit...
OCBC Luncurkan Kartu Kredit Edisi Mickey Mouse
OCBC luncurkan Kartu Kredit Nyala Platinum edisi Mickey Mouse berdesain holografis dengan promo tiket, cashb...
HIPMI-Pemkot Depok Sinergi Dorong UMKM Naik Kelas
HIPMI Kota Depok dan Pemkot memperkuat sinergi pasca-pelantikan BPC 19 September 2026 untuk mendorong UMKM n...
RRI Fest 2026 di Ciomas: Hiburan & Dampak Ekonomi Lokal
RRI Fest 2026 di Lapangan Sakura Ciomas (19/9/2026) disambut hangat dan membantu perputaran ekonomi bagi pel...
Dari Seafood ke Es Teh: Kisah Arif Bangun Hello Drink
Arif Nur Hakim beralih dari kedai seafood ke Hello Drink sejak Mei 2025; kini memiliki dua cabang dan sekita...