Ekonomi

IHSG Dibuka Menguat ke 6.187,65; Rebound Dinilai Belum Solid

Bagikan:
Ilustrasi grafik IHSG menguat di awal perdagangan 25 Mei 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026, berada di level 6.187,65, naik sekitar 25,61 poin (0,42%) dari penutupan Jumat, 22 Mei 2026 yang di level 6.162,04. Penguatan awal ini terjadi meski analis menyebut rebound belum sepenuhnya solid dan pasar masih sensitif terhadap berbagai sentimen.

Pembukaan dan pergerakan awal

Pada awal sesi perdagangan, IHSG memasuki zona hijau dengan kenaikan yang ditopang aksi beli di saham-saham siklikal dan komoditas. Namun, penguatan belum tersebar merata karena sektor perbankan masih tertahan.

Analisis pengamat

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai rebound yang terlihat akhir pekan lalu belum menunjukkan pemulihan yang kuat. Menurutnya, tren pasar masih rapuh dan mudah terpengaruh sentimen global maupun domestik.

“Sementara sektor perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung IHSG justru masih tertahan,” ujar Hendra.

Hendra menjelaskan penguatan indeks lebih banyak didukung saham seperti MDKA, INCO, dan BRPT, sedangkan arus dana besar yang merata belum terlihat. Dengan kata lain, sentimen domestik masih menjadi faktor penghambat.

Risiko global dan domestik

Di tingkat global, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta lonjakan harga minyak menjadi tekanan utama. Hendra memperingatkan jika harga minyak naik di atas USD100 per barel, dampaknya serius bagi Indonesia.

“Kondisi tersebut berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan, meningkatkan subsidi energi, dan mendorong inflasi,” katanya.

Selain itu, ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed yang tetap ketat membuat dana asing cenderung bertahan di aset dolar AS. Aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi terbatas. Pelemahan rupiah yang cepat juga memicu aksi jual investor asing.

Saham yang mulai menarik

Meski demikian, Hendra melihat sejumlah saham dengan valuasi relatif murah namun fundamental yang masih layak dicermati. Beberapa nama yang disebut antara lain:

  • IMPC
  • UNVR
  • ULTJ
  • SCMA

Prospek dan rekomendasi

Hendra memperingatkan IHSG berisiko mengalami koreksi lanjutan sebelum membentuk rebound yang lebih sehat. Level psikologis 6.000 disebut sebagai area penting yang perlu diperhatikan dalam jangka pendek.

“Pasar saat ini lebih cocok disebut sebagai fase pembentukan bottom atau bottoming process, bukan langsung fase bull market baru,” ujar Hendra.

Untuk beralih ke tren bullish yang lebih berkelanjutan diperlukan kombinasi faktor, antara lain meredanya tensi geopolitik, stabilitas rupiah, kebijakan pemerintah yang konsisten, serta perbaikan kinerja emiten pada semester II 2026. Selain itu, peningkatan jumlah investor ritel domestik dan edukasi investasi jangka panjang dapat membantu menopang stabilitas pasar.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait