IHSG Diperkirakan Melemah Jelang Rilis Inflasi Juni 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak di zona merah pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026, menjelang rilis data inflasi Juni oleh Badan Pusat Statistik. Sehari sebelumnya IHSG turun 3,05% ke level 5.643, disertai aliran keluar modal asing.
IHSG diprediksi terus turun
Tim Phintraco Sekuritas menilai pergerakan IHSG cenderung melemah dan berpotensi menguji level 5.500. Penurunan tajam pada perdagangan sebelumnya meningkatkan sentimen risk-off di pasar domestik.
Pergerakan IHSG cenderung ke arah bawah
Aliran modal asing dan saham yang paling banyak dijual
Investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp1,20 triliun pada penutupan perdagangan hari sebelumnya. Tekanan jual asing menjadi salah satu faktor yang memperberat tekanan pada indeks.
- BBCA
- BBRI
- BMRI
- ASII
- AADI
Data ekonomi domestik yang menjadi fokus
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data kunci dari BPS, khususnya laju inflasi bulanan dan tahunan serta angka neraca perdagangan untuk Juni 2026. Menurut konsensus yang dikutip Tim Phintraco, inflasi bulanan diperkirakan naik menjadi 0,29%, sementara inflasi tahunan diprakirakan sebesar 3,2%.
Inflasi Indonesia menurut konsensus diperkirakan meningkat menjadi 0,29 persen secara bulanan
Pada Mei 2026, inflasi tercatat 0,28% secara bulanan dan 3,08% secara tahunan. Tim Phintraco menilai kenaikan inflasi sebagian disebabkan oleh kenaikan harga BBM Pertamax pada pertengahan bulan lalu. Inflasi inti juga diperkirakan naik tipis menjadi 2,6% secara tahunan dari 2,59% sebelumnya.
Neraca perdagangan dan kontribusi perdagangan luar negeri
Konsensus juga memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia meningkat dari sekitar USD 900 juta pada Mei menjadi USD 1,1 miliar pada Juni 2026. Kenaikan surplus diperkirakan ditopang pertumbuhan ekspor sekitar 4% secara tahunan, sementara impor diperkirakan tumbuh lebih tinggi di kisaran 18%.
Dampak eksternal: data ketenagakerjaan AS
Dari sisi eksternal, pasar akan memantau data ketenagakerjaan AS pekan ini. Angka-angka tersebut berpotensi memberi sinyal mengenai arah kebijakan moneter The Fed, yang pada gilirannya memengaruhi aliran modal global dan sentimen pasar keuangan Indonesia.
Prospek pasar
Berdasarkan kombinasi faktor domestik dan eksternal, IHSG diperkirakan tetap berada di bawah tekanan dalam jangka pendek. Investor disarankan mencermati rilis BPS dan respons pasar global sebagai penentu arah pergerakan selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.