Ekonomi

IHSG Melemah Menjelang Akhir Pekan, Ditutup 6.241,89

Bagikan:
Grafik pergerakan IHSG menunjukkan penurunan pada penutupan 25 September 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada penutupan sesi perdagangan Jumat, 25 September 2026, setelah ditutup pada level 6.241,89, turun 56,71 poin atau 0,9 persen. Pelemahan terjadi di Bursa Efek Indonesia seiring investor mencermati perkembangan negosiasi perdagangan AS-Tiongkok, harga energi, dan prospek kebijakan moneter AS.

Pergerakan Pasar dan Statistik Perdagangan

Pergerakan saham cenderung negatif dengan mayoritas emiten mencatat penurunan. Aktivitas perdagangan tetap tinggi meski indeks menurun.

  • 558 saham turun
  • 118 saham naik
  • 117 saham stagnan
  • Nilai transaksi: Rp9,21 triliun
  • Volume perdagangan: 32,65 miliar lembar saham
  • Frekuensi transaksi: lebih dari 1,6 juta kali

Sentimen Global: Negosiasi AS-Tiongkok dan Pertemuan Pemimpin

Tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai tekanan pada IHSG selaras dengan pelemahan bursa regional Asia menjelang akhir pekan. Pasar terus memantau negosiasi antara Amerika Serikat dan Tiongkok karena potensi kesepakatan perdagangan baru.

"Jelang akhir pekan ini, indeks IHSG dan bursa regional Asia cenderung melemah. Pelaku pasar tampaknya terus memantau negosiasi Amerika Serikat dan Tiongkok yang dapat membuka jalan bagi perjanjian perdagangan baru,"

Pelaku pasar juga memperhatikan rencana pertemuan Presiden AS dan Presiden Tiongkok, yang termasuk pembahasan isu teknologi seperti kecerdasan buatan. Pembicaraan itu juga menyentuh isu sensitif lain seperti posisi AS terkait Taiwan.

Dampak Energi dan Ketegangan Geopolitik

Pilarmas mencatat bahwa harga minyak dunia yang masih tinggi menambah tekanan inflasi global dan membatasi ruang kebijakan fiskal serta moneter di beberapa negara. Di kawasan Timur Tengah, eskalasi ketegangan juga menjadi faktor risiko pasar.

Serangan rudal yang diklaim kelompok Houthi dan mengarah ke beberapa kota di Arab Saudi, termasuk Yanbu dan Taif, menambah ketidakpastian pasokan energi dan ekspektasi pasar terhadap fluktuasi harga minyak.

Kebijakan Moneter AS dan Implikasi bagi Pasar

Pergerakan imbal hasil obligasi AS memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Pernyataan pejabat bank sentral AS juga menjadi sorotan.

"The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama. Kenaikan imbal hasil Treasury Amerika Serikat turut memperkuat ekspektasi kebijakan moneter tetap ketat,"

Pejabat seperti John Williams menekankan pekerjaan yang tersisa untuk memastikan tekanan inflasi terkendali, sementara Anna Paulson melihat kemungkinan kebutuhan pengetatan moneter tambahan secara moderat.

Prospek Data Domestik

Dari dalam negeri, Pilarmas mengingatkan investor untuk mencermati rilis data ekonomi pekan depan, termasuk perkembangan perdagangan Agustus dan angka inflasi September. Sebelumnya, inflasi tahunan Agustus tercatat sebesar 3,19%, sebagian dipicu kenaikan harga pangan terkait fenomena El Nino.

Secara keseluruhan, kombinasi sentimen global dan data domestik diperkirakan akan menentukan arah IHSG dalam beberapa sesi mendatang.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait