Politik

Hasto Tegaskan Ikatan Sejarah antara PDI Perjuangan dan NU

Bagikan:
Hasto Kristiyanto berbicara dalam diskusi kebangsaan soal hubungan PDI Perjuangan dan NU

Jakarta, 24 Juli 2026 – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan hubungan partainya dengan Nahdlatul Ulama (NU) dibangun atas fondasi sejarah perjuangan bangsa sejak masa kemerdekaan. Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi kebangsaan dan ke-NU-an di Jakarta, Jumat (24/7/2026), sebagai upaya menegaskan pentingnya kolaborasi antara kaum nasionalis dan ulama demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Akar historis dan peran tokoh proklamasi

Hasto mengingatkan, hubungan itu bermula sejak era Bung Karno yang aktif membangun komunikasi dengan para ulama, termasuk pendiri NU KH Hasyim Asy’ari. Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi kekuatan utama dalam menggerakkan rakyat melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan.

Ia menyoroti momen penting seperti lahirnya Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945 sebagai bukti nyata sinergi antara nasionalis dan ulama dalam mempertahankan republik.

Pesan Hasto menjelang Muktamar NU

Di forum yang sama, Hasto menyerukan agar NU tetap berperan sebagai penjaga moral bangsa dan bebas dari intervensi politik praktis, khususnya menjelang penyelenggaraan muktamar. Ia menekankan pentingnya menjaga kemandirian organisasi agar NU tetap menjadi ruang dialog keagamaan dan sosial.

NU dan PDI Perjuangan, bersama TNI, adalah pemegang panji Republik ini. Kita dibimbing oleh ide, gagasan, dan imajinasi yang sama tentang Indonesia, meski satu menggunakan perspektif Islam dan satunya nasionalis.

Relevansi hubungan historis terhadap tantangan kini

Hasto menilai ikatan historis itu masih relevan untuk merespons berbagai tantangan kebangsaan saat ini. Ia menyebutkan persoalan demokrasi, ketimpangan sosial, dan tekanan geopolitik global sebagai isu yang menuntut sinergi antara kekuatan nasionalis dan kelompok Islam moderat.

Menurut Hasto, persatuan kedua kekuatan ini menjadi modal terbesar bangsa, sehingga upaya memecah belah warisan pendiri negara harus ditolak.

Persatuan nasionalis dan ulama adalah modal terbesar bangsa. Karena itu jangan pernah ada upaya memecah belah hubungan yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa.

Harapan untuk penguatan nilai kebangsaan

Hasto berharap kolaborasi tersebut dapat diperkuat demi menjaga Pancasila, UUD 1945, dan semangat gotong royong yang diwariskan para pendiri bangsa. Ia juga mengingatkan bahwa nilai-nilai agama tidak dipisahkan dari cita-cita kebangsaan, melainkan kerap menjadi sumber inspirasi bagi semangat kemerdekaan.

NU adalah rumah besar umat Islam Indonesia sekaligus benteng moral bangsa. Karena itu, NU harus tetap menjadi cahaya yang menerangi perjalanan bangsa menuju keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan.

Pesan Hasto menegaskan kembali peran strategis konsensus nasionalis-ulama dalam menghadapi dinamika politik dan sosial masa kini, serta pentingnya mempertahankan kemandirian organisasi keagamaan sebagai pilar moral dan kebangsaan.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait