Nasional

Menbud Fadli Dorong Hilirisasi Budaya sebagai Penggerak Ekonomi

Bagikan:
Menteri Kebudayaan berbicara saat peluncuran buku adat Batak Toba di Jakarta

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mendorong pengembangan budaya sebagai sumber pertumbuhan ekonomi melalui hilirisasi dan perlindungan kekayaan intelektual. Pernyataan itu disampaikan saat peluncuran buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba di Jabodetabek di Auditorium Universitas Mpu Tantular, Jakarta Timur, Kamis, 25 Juni 2026. Ia menilai pengelolaan budaya yang sistematis bisa memperkuat pembangunan nasional dan daya saing bangsa.

Budaya jadi modal pembangunan

Fadli menegaskan budaya bukan sekadar warisan untuk dilestarikan, melainkan potensi ekonomi yang harus diolah. Menurutnya, Indonesia memiliki "mega diversity" budaya yang bisa menjadi keunggulan kompetitif. Dia menekankan perlunya kebijakan yang mengubah budaya menjadi produk dan layanan bernilai tambah.

Kebudayaan sangat luas, inilah kekayaan luar biasa yang kita miliki. Saya menyebutnya sebagai mega diversity, budaya merupakan modal yang sangat penting.

Hilirisasi budaya dan perlindungan kekayaan intelektual

Kementerian Kebudayaan mendorong hilirisasi yang bertumpu pada perlindungan dan pengembangan kekayaan intelektual masyarakat. Upaya ini dimaksudkan agar nilai budaya dapat diolah menjadi produk kreatif dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Fadli menyebut tujuan tersebut sebagai upaya menjadikan budaya sebagai engine of growth nasional.

Ia juga merujuk pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 yang memandang kebudayaan lebih luas dari sekadar kesenian. Regulasi itu meliputi sepuluh objek pemajuan kebudayaan, termasuk adat, bahasa, tradisi lisan, dan manuskrip bersejarah. Penyusunan regulasi dan program dianggap penting untuk memastikan perlindungan jangka panjang.

Kasus adat Batak Toba dan buku pedoman

Dalam konteks Batak Toba, Fadli menilai unsur adat perlu didokumentasikan dan disesuaikan dengan dinamika perkotaan. Ia mengapresiasi terbitnya buku sebagai panduan praktik adat di wilayah Jabodetabek yang tetap menjaga nilai-nilai tradisi. Pendekatan yang diusung mengedepankan prinsip Esensial, Efektif, dan Efisien agar adat relevan bagi generasi muda perkotaan.

Saya mengapresiasi upaya adaptasi adat Batak Toba di wilayah Jabodetabek dengan konsep 3E, yaitu Esensial, Efektif, dan Efisien. Pendekatan tersebut dinilai sebagai bentuk penyesuaian yang tetap menjaga nilai-nilai adat di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.

Kami berharap buku ini mampu membangun jembatan antara generasi tua dan generasi muda. Sehingga anak-anak muda Batak tidak hanya mengenal adat sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai identitas dan kebanggaan masa depan.

Dampak dan prospek

Fadli menilai keberagaman budaya dapat memperkuat identitas nasional sekaligus meningkatkan daya saing di panggung global. Contoh keberhasilan film bertema Batak yang meraih penonton besar disebutnya sebagai bukti penerimaan publik terhadap produk budaya lokal. Ke depan, strategi hilirisasi dan perlindungan intelektual diharapkan membuka peluang lapangan kerja dan pendapatan baru bagi pelaku budaya.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait