Dubes Irlandia: Kurator Tentukan Film di Europe on Screen 2026
Dubes Irlandia untuk Indonesia, Sharon Ann Lennon, menegaskan bahwa Irlandia tidak memilih film untuk festival Europe on Screen (EoS) 2026. Pernyataan itu disampaikan usai konferensi pers di Institut Français d'Indonesie (IFI), Jakarta Pusat, Selasa, 26 Mei 2026. Ia menjelaskan bahwa keputusan pemutaran diserahkan kepada kurator yang memahami karakter dan minat penonton Indonesia.
Peran kurator dalam pemilihan film
Lennon mengatakan, pemilihan program di EoS dilakukan berdasarkan penilaian kurator terhadap audiens lokal. Menurutnya, pendekatan ini memastikan karya yang ditayangkan relevan dan menggugah penonton di Indonesia.
"Pemilihan film dalam EoS dilakukan oleh kurator sesuai dengan pemahaman mereka terhadap penonton Indonesia. Pemahaman terhadap audiens menjadi hal yang paling penting dalam proses tersebut,"
Dengan model ini, pihak perwakilan negara lebih memberi ruang bagi kebebasan kuratorial. Langkah tersebut bertujuan untuk menghadirkan variasi tema dan gaya sinema yang sesuai selera penonton setempat.
Tujuan partisipasi Irlandia
Lennon menambahkan bahwa keikutsertaan Irlandia bukan semata mempromosikan film, tetapi juga membangun pemikiran kritis dan keterhubungan budaya. Ia menyoroti bagaimana industri film dan sastra Irlandia berkontribusi pada sektor lain, termasuk pariwisata.
Data yang disampaikan menunjukkan sekitar 26 persen wisatawan ke Irlandia terinspirasi oleh film, buku, televisi, dan produksi budaya Irlandia. Hal ini menjadi contoh bagaimana karya budaya dapat berperan luas di luar layar.
- Membangun koneksi budaya antara pembuat film dan penonton.
- Meningkatkan minat publik terhadap sinema internasional.
- Mendukung sektor pariwisata melalui promosi budaya.
Pesan utama festival: persatuan dalam keberagaman
Deputi Kepala Perwakilan Uni Eropa untuk Indonesia, Stephane Mechati, menekankan pesan sentral EoS 2026. Menurutnya, festival bertujuan mempromosikan unity in diversity—persatuan dalam keberagaman—sebagai landasan hubungan internasional.
"Untuk memahami satu sama lain adalah cara membangun masa depan bersama. Kita harus menghadapi tantangan global secara bersatu semaksimal mungkin,"
Mechati menggarisbawahi bahwa konsep tersebut bukan sekadar slogan, melainkan filosofi untuk memperkuat dialog lintas budaya dan kerja sama internasional.
Secara keseluruhan, peran kurator dinilai krusial dalam menyajikan pilihan film yang tepat bagi penonton Indonesia, sementara partisipasi Irlandia dan negara-negara Eropa lainnya menyorot potensi sinema sebagai jembatan budaya dan penggerak sektor ekonomi lain.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Sharon Jovian Bagikan Pengalaman Syuting Film 'Juminten Edan'
Aktris cilik Sharon Jovian berbagi pengalaman pertamanya main film horor 'Juminten Edan', termasuk belajar b...
Juminten Edan: Film Horor Aksi Perempuan Tayang 23 Juli 2026
Film Juminten Edan tayang 23 Juli 2026, menggabungkan horor, drama, dan laga lewat kisah perempuan difabel y...
Juminten Edan: Horor Klasik Kembali dengan Sentuhan Modern
Film Juminten Edan tayang 23 Juli 2026, mengusung horor klasik lewat atmosfer, drama bertahap, dan koreograf...
Gaya Y2K Kembali Tren, NewJeans Jadi Ikon Revival
Gaya Y2K ala 2000-an kembali populer; NewJeans memperkuat tren lewat teaser dan estetika visual yang mengins...
Iqbaal Jalani Latihan Copet untuk Film Operasi Pesta Copet
Iqbaal Ramadhan dan pemain Operasi Pesta Copet dilatih pesulap profesional selama lebih sebulan agar adegan...
The Office dan Gaya Mockumentary yang Mengubah Sitkom
Gaya mockumentary di The Office membuat penonton merasa jadi saksi, mengubah cara sitkom menghadirkan humor...