Blackout Sumatera: LAPAN Buka Pos Pengaduan dan Tuntut Audit PLN
Medan, Sumatera — Blackout massal yang melumpuhkan sebagian besar Sumatera memicu kecaman terhadap PT PLN (Persero) dan mendorong organisasi masyarakat LAPAN membuka Pos Pengaduan untuk korban. Peristiwa ini, yang mendapat sorotan publik pada Minggu (24/5), dinilai sebagai kegagalan mitigasi dan tata kelola pelayanan kelistrikan.
Dampak langsung blackout
Blackout menyebabkan gangguan luas pada aktivitas ekonomi, usaha masyarakat, dan layanan publik. Jaringan komunikasi ikut terganggu sehingga akses informasi tersendat. Kondisi tersebut juga menimbulkan keresahan sosial di sejumlah daerah terdampak.
Menurut LAPAN, kejadian ini bukan sekadar gangguan teknis biasa, melainkan indikasi lemahnya sistem pengamanan jaringan dan buruknya antisipasi terhadap gangguan pada interkoneksi kelistrikan. Pengelolaan infrastruktur strategis yang dibiayai dari uang publik disebut perlu dievaluasi menyeluruh.
Pernyataan LAPAN dan tuntutan publik
“Kalau sistem kelistrikan nasional bisa lumpuh hanya karena satu gangguan transmisi, maka publik patut mempertanyakan: di mana mitigasi risikonya? Di mana kesiapan PLN? Jangan setiap krisis rakyat hanya disuruh memahami dan memaklumi. Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan yang andal dan berhak menuntut ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkan.”
Ketua Umum LAPAN, Ariffani, menegaskan bahwa alasan cuaca buruk tidak boleh terus dijadikan tameng atas buruknya kesiapan sistem. Ia juga menekankan pentingnya akuntabilitas penyelenggara layanan publik.
Pos pengaduan untuk korban
Menindaklanjuti kejadian itu, LAPAN resmi membuka Pos Pengaduan untuk menerima laporan warga dan pelaku usaha terdampak. Pos ini bertujuan menghimpun bukti dan mendokumentasikan kerugian sebagai dasar tuntutan hukum atau kompensasi.
Pos pengaduan menerima laporan mengenai:
- Laporan kerugian masyarakat
- Kerusakan alat elektronik
- Kerugian usaha
- Gangguan pelayanan publik
- Dugaan kelalaian penyelenggaraan kelistrikan
Seruan reformasi dan rekomendasi
LAPAN menyerukan agar masyarakat terdampak tidak pasif dan mulai menyuarakan haknya secara hukum. Organisasi tersebut juga mendesak tindakan konkret untuk mencegah kejadian serupa.
- Audit independen terhadap sistem kelistrikan Sumatera
- Transparansi penuh terkait penyebab blackout
- Pemberian kompensasi yang layak kepada seluruh pelanggan terdampak
- Evaluasi total terhadap manajemen dan mitigasi risiko PLN
“Jangan biarkan blackout ini berlalu hanya dengan permintaan maaf. Jika masyarakat terus diam, maka kejadian serupa akan terus berulang. Negara dan penyelenggara layanan publik harus bertanggung jawab. Rakyat bukan korban yang harus selalu mengalah.”
Kasus ini membuka tekanan baru bagi otoritas terkait untuk meningkatkan pengawasan dan memperbaiki sistem kelistrikan. Ke depan, publik menunggu langkah konkret, termasuk hasil audit independen dan kebijakan kompensasi yang jelas bagi korban.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Polda Sumut Ungkap Motif Pembunuhan Wakil Rektor IT&B di Berastagi
Polda Sumut menangkap dua pelaku pembunuhan Wakil Rektor II IT&B di Berastagi. Motifnya untuk menguasai hart...
Tiorita Tinjau Perbaikan Jalan Longsor di Salapian, Langkat
Plt Bupati Langkat Tiorita Br Surbakti meninjau perbaikan jalan longsor di Salapian (29/9); Pemkab turunkan...
Wali Kota Lhokseumawe Siapkan Pendampingan Hukum untuk Keluarga Rasya
Wali Kota Lhokseumawe janjikan pendampingan hukum untuk keluarga Muhammad Rasya Fadilla dan akan menyiapkan...
DPR Minta Warga Tenang dan Percayakan Penyelidikan Kasus Mahasiswa Pelayaran
Anggota DPR Komisi V, Ghufran, menyampaikan duka atas meninggalnya mahasiswa Politeknik Malahayati dan memin...
Pemkab Aceh Besar dan BNN Sinergi Pulihkan Kawasan Rawan Narkoba
Pemkab Aceh Besar dan BNN memperkuat sinergi untuk memulihkan kawasan rawan narkoba lewat pencegahan, pember...
Labuhanbatu Gelar Bupati Cup PBSI 2026, 250 Peserta Ikut
Turnamen Bupati Cup PBSI Labuhanbatu 2026 resmi dibuka di Rantauprapat, diikuti sekitar 250 peserta dari 10...