Ekonomi

BI Respon Pelemahan Rupiah: Intervensi dan Langkah Likuiditas

Bagikan:

Bank Indonesia memberi respons atas pelemahan rupiah yang berlangsung sejak sepekan terakhir. Dalam keterangan tertulis, Senin, 21 September 2026, BI menyatakan penyebab utama adalah faktor eksternal, termasuk ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak.

Faktor pendorong pelemahan

BI menilai pelemahan mata uang domestik masih dipengaruhi konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak di atas USD 100 per barel. Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko inflasi global dan menekan outlook fiskal, kata BI.

“Pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik telah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas USD100 per barel,”

Selain itu, BI menyebut adanya kebutuhan valas dari para importir serta arus keluar dana portofolio domestik sebagai faktor yang memperberat tekanan nilai tukar.

“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,”

Langkah BI di pasar

Untuk meredam volatilitas, BI menegaskan akan terus hadir di pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental. Bank sentral menerapkan sejumlah langkah operasional dan kebijakan moneter yang pro-market.

Langkah-langkah yang disebutkan BI meliputi:

  • Pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang.
  • Penguatan strategi operasi moneter dan efektivitas stabilisasi nilai tukar.
  • Transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan insentif.
  • Intervensi di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF) dan di pasar domestik melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta pasar spot.
  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“Selain itu, BI memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas. Upaya itu dilakukan melalui transaksi ‘underlying’ untuk ‘swap’ lindung nilai dengan perolehan insentif,”

Koordinasi dan diversifikasi

BI juga menekankan pentingnya koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk mendorong masuknya modal asing. Komunikasi intensif ditujukan untuk mengoptimalkan insentif yang telah diberikan kepada investor.

“Koordinasi dan komunikasi antara BI dengan korporasi serta pelaku pasar terus dilakukan secara intensif. Antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan,”

Selain itu, BI mendorong diversifikasi permintaan valuta asing lewat skema Local Currency Transaction (LCT) agar ketergantungan pada dolar berkurang.

Data terkini

BI mencatat secara kuartalan rupiah masih mencatat penguatan terhadap dolar AS sebesar 0,37 persen. Posisi cadangan devisa juga dilaporkan meningkat menjadi USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

“Di sisi lain, posisi cadangan devisa juga meningkat ke level USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026,”

BI menegaskan akan melanjutkan kombinasi kebijakan pasar dan koordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar sejalan dengan fundamental ekonomi.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait