Banjir Rendam Dua SD di Tukka, Ratusan Siswa Terhenti Belajar
PANDAN — Banjir kembali melanda Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, sehingga dua gedung SD terendam lumpur dan ratusan siswa terhenti kegiatan belajarnya. Peristiwa terjadi setelah hujan deras dua hari berturut-turut meningkatkan debit sungai hingga meluap, menenggelamkan SDN 152981 Tukka IA dan SDN 152982 Tukka IB. Pihak sekolah meminta tindakan permanen dari pemerintah untuk mencegah kejadian berulang.
Dampak langsung pada proses belajar
Hujan deras membuat air sungai meluap dan menyisakan endapan lumpur setinggi sekitar 25 sentimeter di seluruh ruang kelas. Kepala SDN 152982 Tukka IB, Juraidah, menyatakan sekolah tidak dapat digunakan sementara karena fasilitas dan bahan ajar banyak yang rusak.
"Sejumlah meja, kursi, buku pelajaran, dan perlengkapan belajar rusak akibat terendam lumpur. Demi keselamatan siswa, kami menghentikan sementara kegiatan belajar,"
Akibatnya, kegiatan belajar mengajar untuk ratusan siswa dihentikan sampai kondisi sekolah dinyatakan aman.
Pembersihan dan upaya darurat
Setelah banjir surut, guru dan sebagian siswa melaksanakan kerja bakti untuk membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah dari endapan lumpur. Proses ini bertujuan mempercepat pemulihan agar pembelajaran dapat dilanjutkan secepat mungkin.
Namun, pembersihan darurat hanya menjadi solusi sementara karena kerentanan lokasi sekolah di bantaran sungai membuatnya langganan banjir setiap kali hujan intensitas tinggi di hulu.
Permintaan penanganan permanen
Juraidah meminta perhatian dari Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah pusat agar segera melakukan penanganan yang lebih permanen. Ia menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur seperti tanggul dan normalisasi sungai untuk melindungi sekolah dan kawasan permukiman.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar anak-anak mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, serta agar gangguan pembelajaran tidak terus berulang setiap musim hujan.
Implikasi dan langkah ke depan
Tanpa intervensi struktural, risiko gangguan pendidikan di wilayah bantaran sungai akan terus berulang. Penanganan jangka panjang seperti normalisasi sungai dan tanggul menjadi kunci untuk melindungi sekolah dan fasilitas publik lainnya.
Sekolah berharap pemerintah daerah dan pusat dapat segera meninjau lokasi dan merancang solusi teknis agar kegiatan belajar ratusan siswa tidak lagi terganggu oleh banjir.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Pemkab Samosir Tanggung Biaya Perawatan Korban Kecelakaan Bus
Pemkab Samosir menanggung biaya perawatan korban kecelakaan bus di Desa Boho dan memfasilitasi rujukan serta...
Polsek Siantar Selatan Bantu Lansia Penderita Stroke lewat Jumat Berkah
Polsek Siantar Selatan mengunjungi lansia penderita stroke di Siantar Selatan, Jumat (18/9), dan menyerahkan...
Wali Kota Ikuti Farewell dan Pedang Pora Kapolres Pematangsiantar
Wali Kota Wesly Silalahi hadir pada farewell parade dan tradisi pedang pora saat serah terima Kapolres Pemat...
Keracunan MBG di Sumut, BGN Tutup SPPG dan Diminta Hentikan Program
Kasus keracunan MBG di Sumut memaksa BGN hentikan operasional SPPG bermasalah dan diminta evaluasi menyeluru...
Polsek Siantar Martoba Dampingi Penjualan 2.500 kg Jagung ke Bulog
Polsek Siantar Martoba mendampingi penjualan 2.500 kg jagung petani ke Bulog Pematangsiantar pada 18 Septemb...
Aceh Raih Posisi Empat Besar di MTQ Nasional 2026
Kontingen Aceh finis di posisi empat besar MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang; Komisi VII DPR Aceh mengapres...