Keracunan MBG di Sumut, BGN Tutup SPPG dan Diminta Hentikan Program
Medan. Maraknya kasus keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Utara memaksa Badan Gizi Nasional (BGN) mengevaluasi pengelolaan dapur dan rantai pasok sejak pertengahan September. BGN menemukan banyak SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang belum memenuhi SOP, sehingga beberapa unit dihentikan operasionalnya sementara untuk perbaikan.
Kondisi SPPG dan tindakan BGN
Kepala Kantor Pelayanan Gizi Medan untuk Sumut dan Aceh, Donal Simanjuntak, menyatakan temuan utama adalah sarana yang belum sesuai petunjuk teknis. BGN memberi sanksi berupa penutupan sementara hingga perbaikan standar terpenuhi.
"Kekurangan yang paling banyak kami temukan adalah kondisi sarana yang belum sesuai juknis. Ini yang terus kami benahi agar seluruh SPPG memenuhi SOP,"
SPPG bermasalah dikenai penghentian operasi selama 30 hari. Dalam kasus kelalaian berat, BGN juga mengganti kepala dapur, relawan, dan pengawas makanan serta gizi.
Rantai pasok dan kapasitas produksi
BGN menyoroti rantai pasok, khususnya bahan pangan yang mudah rusak, seperti ikan. Penyimpanan yang tidak sesuai prosedur dinilai sebagai salah satu faktor penyebab makanan berbau dan basi.
Menurut penjelasan BGN, setiap SPPG memasak hingga 3.000 porsi per hari dengan jam operasi mulai pukul 02.00 hingga 09.00 WIB. Ketika satu SPPG ditutup, distribusi sulit dialihkan karena dapur lain sudah mencapai kapasitas maksimal.
Posko pengaduan dan respons BGN
BGN menyatakan menerima keluhan publik melalui posko pengaduan yang muncul di masyarakat. Laporan itu dianggap sebagai masukan penting untuk memperbaiki standar pelayanan dan meminimalkan risiko kesehatan penerima MBG.
Kritik publik dan seruan evaluasi menyeluruh
Pengamat kebijakan publik Elfenda Ananda meminta penghentian operasional bagi SPPG yang tidak mematuhi SOP. Ia menilai kelanjutan operasi tanpa perbaikan berisiko bagi keselamatan penerima program.
"Ini berbahaya bagi keselamatan penerima MBG. Bagaimana tanggung jawab BGN membiarkan SPPG beroperasi tanpa mematuhi SOP yang ada,"
Elfenda juga menyorot masalah lain yang pernah muncul pada MBG, termasuk laporan korupsi, kasus makanan tercemar, dan beban terhadap APBN. Ia menegaskan agar pemerintah pusat menghentikan pemaksaan program sebelum evaluasi menyeluruh dilakukan.
Sampai langkah perbaikan berjalan, BGN dan pemangku kepentingan daerah harus memastikan standar kebersihan, penyimpanan, dan distribusi terpenuhi agar program MBG kembali aman dan dapat dipercaya oleh masyarakat.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Pemerintah Turunkan Bunga PNM Mekar menjadi 8% Flat per Tahun
Pemerintah menargetkan suku bunga PNM Mekar diturunkan menjadi 8% flat per tahun, didukung subsidi Rp2,6 tri...
Golkar Labura Terima SK Kepengurusan 2025–2030, Fokus Konsolidasi
DPD Golkar Labuhanbatu Utara menerima SK kepengurusan 2025–2030 dan menargetkan konsolidasi serta regenerasi...
Razia di Rutan Banda Aceh, Senjata Tajam dan Benda Terlarang Ditemukan
Razia gabungan di Rutan Kelas IIB Banda Aceh menemukan senjata tajam dan barang terlarang, namun tidak menem...
Wali Kota: Sabang Potensial Jadi Gerbang Ekonomi dan Hub Maritim
Wali Kota Sabang hadir di seminar IKAL Aceh dan sebut Sabang berpotensi jadi hub maritim serta butuh kepasti...
Reses DPRK Subulussalam: Warga Keluhkan Lampu Jalan, Usulkan BLK Kecamatan
Warga Penanggalan keluhkan lampu jalan padam, usulkan BLK kecamatan, air bersih, dan penambahan kursi DPRK p...
Tuntutan 3 Tahun untuk Dua PSK Terkait Pemerasan ASN BPN di Medan
Dua PSK, Fajar dan Junia, dituntut tiga tahun penjara atas pemerasan terhadap ASN BPN Nias, Apriaman Lase, y...