Nasional

Menbud Fadli Dorong Adaptasi Sastra Klasik ke Film

Bagikan:
Menteri Kebudayaan Fadli Zon berbicara soal adaptasi sastra klasik ke film

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong agar karya sastra klasik Indonesia dikembangkan menjadi film, teater, dan drama musikal. Pernyataan itu disampaikan usai acara "Sasana: Membaca Klasik Indonesia" di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Kamis, 2 Juli 2026. Tujuannya, kata Fadli, agar pemanfaatan karya sastra meluas ke industri kreatif nasional dan memperkuat eksistensi sastra di masyarakat.

Dorongan untuk hilirisasi karya sastra

Fadli mencontohkan novel Mochtar Lubis berjudul Jalan Tak Ada Ujung yang diadaptasi menjadi film Perang Kota sebagai bukti potensi karya klasik menembus layar lebar. Ia berharap proses adaptasi serupa dilakukan secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari peringatan Hari Sastra Indonesia.

"Mudah-mudahan karya sastra klasik bisa dihilirisasi dalam bentuk teater, film, atau drama musikal. Seperti tahun lalu film Perang Kota yang diangkat dari novel Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung,"

"Jadi sastra ini kita harapkan akan kita lanjutkan setiap tahunnya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi bagian dari peringatan Hari Sastra Indonesia,"

Upaya terjemahan untuk jangkauan internasional

Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan bersama Manajemen Talenta Nasional meluncurkan enam buku terjemahan sastra klasik Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Peluncuran ini ditujukan untuk memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia ke panggung internasional.

Proses penerjemahan dilakukan oleh tim Laboratorium Penerjemahan Sastra selama satu tahun penuh. Tahapan kerja dibuat bertahap untuk memastikan ketepatan bahasa, makna, dan kualitas naskah yang diterjemahkan.

Proses kreatif adaptasi "Perang Kota"

Sutradara Mouly Surya menceritakan ide adaptasi muncul saat ia menemukan kembali novel Mochtar Lubis di rak bukunya. Novel berlatar Jakarta pascakemerdekaan itu memberi inspirasi visual dan naratif yang kuat.

"Sudah lama, ada di rak buku, tidak dibaca-baca. Saat mulai membaca, entah kenapa saya seperti melihat semacam gambar di kepala saya,"

Proses pembuatan film dimulai pada 2018 dan selesai pada 2024. Mouly menjelaskan lamanya produksi disebabkan oleh kebutuhan koproduksi dan koordinasi lintas negara.

"Film ini melibatkan koproduksi dari tujuh negara. Yaitu Indonesia, Singapura, Belanda, Prancis, Norwegia, Filipina dan Kamboja,"

Keikutsertaan beberapa negara menunjukkan skala produksi dan upaya membawa cerita lokal ke audiens internasional.

Implikasi dan langkah ke depan

Program hilirisasi dan penerjemahan dianggap penting untuk memperluas pembaca dan penonton karya sastra klasik. Jika dilanjutkan tiap tahun, langkah ini berpotensi memperkuat ekosistem industri kreatif serta membuka peluang koproduksi dan distribusi global.

Perpaduan penerjemahan dan adaptasi audiovisual dipandang sebagai strategi untuk menjaga relevansi sastra klasik sekaligus memperluas jangkauan budaya Indonesia ke tingkat internasional.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait