Wamenkomdigi: Agentic AI Harus Libatkan Manusia
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa Agentic AI yang dapat mengambil keputusan dan bertindak secara mandiri harus tetap melibatkan manusia sebagai pengambil keputusan akhir. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Minggu, 13 September 2026, saat membahas risiko dan kebijakan tata kelola teknologi AI.
Apa itu Agentic AI?
Agentic AI bukan sekadar sistem yang memberi respons. Teknologi ini mampu menginisiasi tindakan, membuat keputusan, dan mengembangkan nalarnya sendiri jika diberi otoritas. Perkembangan tersebut membuka peluang inovasi sekaligus tantangan baru dalam pengendalian sistem otomatis.
Risiko dan kebutuhan keterlibatan manusia
Nezar menilai kemampuan otonom Agentic AI membawa risiko yang perlu dikendalikan. Ia mempertanyakan peran manusia dalam proses ketika sistem dapat membuat keputusan tanpa keterlibatan manusia secara langsung.
"Agentic AI bisa berpikir, membangun nalarnya sendiri, dan membuat keputusan tanpa kita ketahui. Banyak juga risiko yang membuat kita mempertanyakan apakah manusia masih ada di dalam proses itu?"
Menurut Nezar, batasan dan mekanisme kontrol penting untuk memastikan keputusan akhir tetap di tangan manusia. Tanpa pengaturan, pemberian otoritas penuh kepada AI berpotensi menimbulkan dampak yang sulit dikoreksi.
"Ini yang harus dipertimbangkan risiko-risikonya. Karena Agentic AI punya kemampuan untuk membuat keputusan jika kita berikan otoritas,"
Pendekatan pemerintah: kebijakan berbasis risiko
Pemerintah disebut sedang mendalami kebijakan pemanfaatan AI agar seimbang antara inovasi dan perlindungan terhadap manusia. Pendekatan yang ditempuh adalah berbasis risiko, yakni menilai potensi dampak teknologi sebelum memberikan ruang operasional yang lebih luas.
"Inilah gambaran ke depan yang harus diperhitungkan dalam policy making untuk tata kelola AI ini. Pemerintah sendiri mengambil pendekatan berbasis risiko untuk menjaga keseimbangan antara ruang inovasi dan perlindungan terhadap manusia,"
Implikasi ke depan
Pernyataan Wamenkomdigi menandai dorongan ke arah regulasi yang lebih ketat untuk sistem AI otonom. Langkah pemerintah selanjutnya kemungkinan akan mencakup standar operasional, batasan otoritas AI, dan mekanisme audit untuk memastikan keterlibatan manusia dalam keputusan kritis.
Diskusi ini penting seiring percepatan penerapan teknologi AI di sektor publik dan swasta. Penetapan kebijakan yang jelas akan menentukan sejauh mana inovasi dapat berjalan tanpa mengorbankan aspek keselamatan, etika, dan hak pengguna.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...