Ekonomi

Volume Petikemas KAI Meningkat 19% Hingga Agustus 2026

Bagikan:
Gerbong petikemas KAI di jalur rel saat operasi logistik

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat volume angkutan petikemas sebesar 3.928.221 ton hingga Agustus 2026, naik 19,24 persen secara tahunan atau setara penambahan 633.966 ton. Data kinerja ini dirilis perusahaan pada 10 September 2026 sebagai indikator peningkatan permintaan layanan logistik berbasis rel di Indonesia.

Data kinerja angkutan petikemas

Angka tersebut menunjukkan percepatan pengiriman barang menggunakan moda kereta api pada paruh pertama tahun ini. Realisasi volume Januari–Agustus 2025 tercatat 3.294.255 ton, sehingga kenaikan tahun ke tahun mencapai 19,24 persen.

Periode Volume (ton) Perubahan
Jan–Agu 2025 3.294.255 -
Jan–Agu 2026 3.928.221 +633.966 (19,24%)

Pernyataan resmi dari KAI

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini mencerminkan kebutuhan pasar akan layanan logistik yang efisien dan andal.

"Pertumbuhan angkutan petikemas sebesar 19,24 persen hingga Agustus 2026 menunjukkan kebutuhan terhadap layanan logistik yang efisien terus berkembang. KAI menghadirkan layanan angkutan barang yang mendukung aktivitas industri melalui jaringan kereta api yang menghubungkan berbagai kawasan produksi, distribusi, hingga simpul perdagangan," ujar Anne.

Executive Vice President Corporate Secretary KAI, Wisnu Pramudya, menegaskan komitmen perusahaan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan.

"Ke depan, KAI akan terus meningkatkan kualitas layanan angkutan petikemas melalui pengembangan jaringan, peningkatan kapasitas operasional, serta kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung kebutuhan logistik nasional," kata Wisnu.

Peran Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)

Pertumbuhan moda rel selaras dengan pengembangan kawasan industri baru, khususnya Kawasan Industri Terpadu Batang. KITB menjadi salah satu lokasi utama pengembangan ekosistem logistik terintegrasi.

Ekosistem itu mencakup keterhubungan dry port, pelabuhan, gudang, trucking, dan jaringan hinterland. Moda kereta api dikaji untuk mengangkut barang menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Patimban, serta Kalimas Surabaya. Tahap pengoperasian awal dry port KITB ditargetkan resmi beroperasi pada 2028, menyediakan layanan container handling, rail service, warehouse, dan empty depot.

Dampak terhadap rantai pasok dan prospek ke depan

Peningkatan volume petikemas berpotensi menurunkan biaya logistik dan meningkatkan daya saing industri nasional. Transportasi berbasis rel memberikan kepastian jadwal dan kemampuan mengangkut volume besar.

KAI fokus mengoptimalkan perjalanan kereta barang dan memperluas kerja sama dengan pelanggan industri. Langkah ini diharapkan memperkuat konektivitas antarkawasan dan mendukung kelancaran distribusi nasional.

Dengan sinergi pengembangan infrastruktur dan peningkatan layanan operasional, KAI diposisikan untuk memainkan peran lebih besar dalam ekosistem logistik nasional dalam beberapa tahun mendatang.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait