Pembagian 1.000 Tiket Gratis PRSU Dikritik: Hanya untuk 5 Kecamatan
Medan — Kebijakan panitia Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 yang membatasi pembagian 1.000 tiket gratis hanya untuk warga lima kecamatan di Kota Medan mendapat kritik tajam, Senin (13/6). Pengamat sosial Sumut Agus Suriadi menilai langkah itu tidak mendukung prinsip pemerataan karena Sumut memiliki ratusan kecamatan dan jutaan warga.
Kritik terhadap cakupan pembagian tiket
Agus menyambut baik niat panitia memberikan tiket gratis, namun mempertanyakan ruang lingkupnya yang sangat sempit. Dari 21 kecamatan di Kota Medan, hanya lima kecamatan diberi kuota, apalagi jika dibandingkan dengan total 455 kecamatan di seluruh Sumut.
Menurut Agus, kebijakan ini berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial jika tidak segera dievaluasi dan direvisi.
"Artinya, akses masyarakat terhadap program ini sangat timpang,"
Enam langkah agar distribusi lebih adil
Agus menawarkan enam langkah konkret agar distribusi tiket menjadi lebih adil dan inklusif. Rekomendasi ini dimaksudkan agar PRSU kembali menjadi pesta rakyat bagi seluruh warga Sumut, bukan hanya sebagian kecil.
- Alokasi tiket gratis untuk setiap kecamatan se-Sumatera Utara, bukan hanya sebagian kecamatan di Medan.
- Akses khusus bagi masyarakat kurang mampu, pelajar, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lain.
- Sistem kuota tiket berbasis jumlah penduduk tiap kecamatan agar lebih proporsional.
- Roadshow pra-acara PRSU ke kabupaten/kota sekaligus pembagian tiket langsung.
- Pelibatan organisasi masyarakat, komunitas lokal, dan pemerintah daerah dalam distribusi.
- Perluasan sosialisasi PRSU agar masyarakat di seluruh Sumut merasa memiliki acara ini.
Sejarah PRSU dan tuntutan pembenahan
Agus mengajak pengurus PRSU dan pemangku kepentingan merefleksikan posisi acara ini dibanding masa jayanya. Ia mengingat era 1970–1980 ketika PRSU, yang saat itu bernama Medan Fair, dihadiri pejabat tinggi negara dan menarik pengunjung dari seluruh kabupaten dan kota di Sumut.
"Greget PRSU terasa jauh berkurang,"
Atas dasar itu, ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh. Evaluasi harus mencakup harga tiket, konsep program, pemerataan akses, dan strategi promosi agar PRSU kembali mengangkat UMKM, seni, dan budaya lokal.
Dampak dan prospek
Jika tidak ditangani, kebijakan pembagian tiket yang sempit dapat memperlebar ketimpangan akses terhadap acara publik. Sebaliknya, revisi distribusi yang melibatkan kabupaten dan komunitas lokal berpotensi mengembalikan PRSU sebagai ajang inklusif dan representatif bagi seluruh masyarakat Sumut.
Momentum 50 tahun PRSU dinilai tepat untuk melakukan perubahan tersebut, sehingga pesta rakyat ini kembali dirasakan manfaatnya oleh pelaku UMKM, seniman, dan masyarakat luas.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Antrean BBM di Medan: Pertalite Diserbu, Solar Habis
Antrean panjang BBM Pertalite dan Solar terjadi di beberapa SPBU Medan, 13 Juli, setelah pasokan kembali mas...
Antrean Panjang di SPBU Medan, Pertamina Tambah Armada Distribusi
Antrean panjang terjadi di beberapa SPBU Medan pada 13 Juli; Pertamina menambah 15 mobil tangki dan 30 awak...
Bobby Nasution Ajak GP Nasdem Sumut Perkuat Nasionalisme dan Lawan Narkoba
Gubsu Bobby Nasution minta kader GP Nasdem Sumut perkuat nasionalisme dan aktif lawan narkoba serta judi onl...
SMAN 1 Matauli Pandan Raih Otorisasi IB, Gubsu Bobby Apresiasi
SMAN 1 Matauli Pandan jadi sekolah negeri pertama di Indonesia yang meraih otorisasi IB Diploma Programme; G...
Kebakaran Landa Kebun Sawit di Trumon, Kerugian Diperkirakan Rp300 Juta
Kebakaran di kebun sawit Desa Gampong Tengah, Trumon, Aceh Selatan menghanguskan pondok, mobil, dan peralata...
Bunda PAUD Hadiri Pembukaan MPLS di TK Pembina 2 Pematangsiantar
Bunda PAUD Liswati Wesly Silalahi membuka MPLS di UPTD TK Pembina Negeri 2 Pematangsiantar pada 13 Juli, men...