Pengamat: Talenta Sepak Bola Muda Indonesia Tersebar Luas
Mohamad Kusnaeni, pengamat sepak bola, menyatakan Indonesia memiliki banyak talenta sepak bola muda yang tersebar hampir di seluruh daerah namun masih banyak belum tersentuh talent scouting, kompetisi, dan pembinaan karier sejak usia dini. Pernyataan itu disampaikan dalam dialog di PRO 3 RRI, Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.
Potensi besar di berbagai daerah
Kusnaeni mengatakan pengakuan soal besarnya potensi pemain muda kerap datang dari pelatih, mantan pemain, dan pencari bakat. Menurutnya, potensi itu tidak hanya ada di Papua dan Maluku, tetapi tersebar di banyak wilayah lain.
Pengalamannya menggelar Piala Menpora U-16 menunjukkan bukti nyata. Beberapa pemain yang muncul dari kompetisi kelompok usia itu kemudian berkembang dan memperkuat tim nasional.
“Harus kita akui bahwa Indonesia ini salah satu negara dengan potensi pemain yang sebetulnya luar biasa ya. Ini sering kita dengar pengakuan itu atau pernyataan itu dari para pelatih, mantan pemain yang pernah melakukan talent scouting,”
Kendala: keterbatasan wadah dan pembinaan karier
Meski talenta banyak, Kusnaeni menilai akses ke proses pencarian bakat dan kompetisi masih sangat terbatas. Banyak pemain muda belum mendapatkan pembinaan karier yang sistematis sejak awal.
“Bahkan mungkin yang lebih penting lagi belum tersentuh oleh upaya membantu mereka untuk menata karir dari awal. Itu yang sangat penting, karena menata karir dari awal itu adalah kunci untuk keberhasilan di masa depan,”
Solusi praktis: kompetisi lokal dan pembinaan berkelanjutan
Kusnaeni menyarankan agar kompetisi tidak harus berskala nasional untuk memberi ruang bagi talenta berkembang. Pilihan lain adalah menggelar pertandingan di tingkat kabupaten atau kawasan terdekat.
- Perkuat kompetisi usia muda mingguan untuk mengukur hasil latihan.
- Kembangkan sistem talent scouting yang menjangkau desa dan kecamatan.
- Sediakan pendampingan karier agar pemain tetap bersekolah dan dekat dengan keluarga.
Ia mencontohkan nama seperti Beckham Putra dan Hajar Faturahman yang pernah mengikuti kompetisi usia muda bersama sekolah sepak bola. Pengalaman semacam itu, kata Kusnaeni, mempermudah jalan pemain ke level lebih tinggi.
Implikasi dan langkah ke depan
Jika diimplementasikan, pendekatan berbasis kompetisi lokal dan pembinaan sejak dini dapat memperkuat pipeline pemain untuk tim nasional. Kusnaeni menekankan bahwa pengelolaan karier sejak muda sama pentingnya dengan menemukan bakat itu sendiri.
“Saya mendapat keyakinan bahwa sebetulnya potensi pemain Indonesia itu luar biasa. Cuma selama ini wadah bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan menunjukkan bakat itu memang masih sangat kurang,”
Perbaikan sistem scouting, kompetisi usia muda, dan pembinaan karier menjadi kunci agar talenta yang tersebar dapat tumbuh secara berkelanjutan dan berkontribusi bagi sepak bola nasional.
Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.
Berita Terkait
Indonesia Kalah 0-3 dari Vietnam di ASEAN Hyundai Cup 2026
Indonesia takluk 0-3 dari Vietnam di Pakansari, Senin 3 Agustus 2026; skuad Garuda wajib kalahkan Singapura...
Alexandra Eala Juara DC Open 2026, Cetak Sejarah untuk Filipina
Alexandra Eala jadi petenis Filipina pertama juara WTA setelah mengalahkan Jessica Pegula di final DC Open 2...
Persija vs Persib di Semifinal Piala Presiden: Shin Tekankan Kerja Keras
Persija hadapi Persib di semifinal Piala Presiden 2026 (4/8/2026) tanpa penonton; Shin Tae-yong minta pemain...
Arema Optimistis Menang di Derby Jatim Demi Tiket Final
Arema optimistis menaklukkan Persebaya pada semifinal Derby Jatim, 4 Agustus 2026 di Stadion Kapten I Wayan...
Persebaya Kian Solid, Siap Rebut Tiket Final Piala Presiden 2026
Persebaya fokus evaluasi demi rebut tiket final Piala Presiden 2026 saat hadapi Arema FC di semifinal, Selas...
Persib Tampil All-Out di Semifinal Kontra Persija
Persib hadapi Persija di semifinal Piala Presiden 2026, Selasa 4 Agustus di Gianyar. Maung Bandung bertekad...