Politik

Dari Warung Kopi ke Peternakan: Suyati Kembangkan Ayam KUB di Tuban

Bagikan:
Suyati memeriksa telur di kandang Ayam KUB di Kecamatan Soko, Tuban

TUBAN — Suyati (42) berhasil mengubah pekarangan rumahnya di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, menjadi peternakan Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (Ayam KUB) sejak Februari 2025. Ia memulai usaha untuk menambah penghasilan keluarga setelah termotivasi oleh diskusi tentang kemandirian pangan di organisasi partainya. Kini populasi ternaknya berkembang menjadi ratusan ekor, dengan sekitar 100 indukan aktif dan omzet yang menjanjikan.

Awal usaha dan motivasi

Suyati memulai dengan modal kecil: dua paket bibit, masing-masing berisi 2 pejantan dan 10 betina. Kegiatan ini awalnya sebagai sambilan dari usaha warung kopinya. Motivasi bertambah saat ia sering hadir dalam pertemuan PAC PDI Perjuangan Soko yang mendorong kemandirian pangan berbasis masyarakat.

"Awalnya saya cuma jualan di warung kopi agar ada tambahan income. Lalu saat ikut acara partai, saya sangat termotivasi mendengarkan cerita teman sesama peternak yang bisa berkembang pesat,"

Keunggulan Ayam KUB

Suyati memilih Ayam KUB karena produktivitasnya tinggi dan cocok untuk usaha rumahan. Satu induk KUB dapat menghasilkan 160–180 butir telur per tahun, sementara sifat mengeram yang rendah menjaga kontinuitas produksi. Masa panen daging relatif singkat, antara 2–2,5 bulan dengan bobot sekitar 0,8–1 kg per ekor.

  • Produktivitas telur tinggi
  • Masa panen daging cepat
  • Daya tahan penyakit lebih baik untuk skala rumahan

Peningkatan usaha: DOC dan pakan mandiri

Dengan dorongan dari ketua DPC setempat, Suyati berani memperluas usaha. Ia mulai menetaskan bibit sendiri menggunakan mesin tetas dan meracik pakan lokal. Langkah ini menambah variasi produk yang dijual, termasuk telur konsumsi, bahan adonan kue, dan Day Old Chick (DOC).

"Telur laku keras, DOC juga selalu dicari warga sekitar Soko karena bibitnya unggul. Senang sekali, dari kandang belakang rumah bisa bantu ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan warung kopi,"

Tantangan dan solusi

Perjalanan usaha tidak tanpa hambatan. Suyati sempat menghadapi kegagalan penetasan akibat salah pengaturan suhu dan kehilangan DOC saat cuaca ekstrem. Harga pakan pabrikan yang fluktuatif juga menekan margin usaha.

Ia mengatasi masalah itu dengan belajar otodidak, bereksperimen meracik pakan dari bahan lokal, serta memperbaiki manajemen pemeliharaan. Upaya ini berhasil memangkas biaya operasional dan meningkatkan ketahanan usaha.

"Kalau ditekuni, ayam KUB ini rezekinya nyata. Dukanya jadi pelajaran, sukanya jadi tambahan berkah untuk keluarga,"

Dampak ekonomi dan prospek

Kisah Suyati menunjukkan bagaimana inisiatif rumah tangga dapat mendorong kemandirian pangan dan ekonomi lokal. Dengan model usaha yang terus dikembangkan, skala usaha seperti ini berpotensi menyerap permintaan bibit lokal dan memperkuat ketahanan pangan komunitas desa.

Ke depan, kolaborasi dengan kelompok peternak lain dan peningkatan kapasitas teknis dapat memperbesar peluang pemasaran dan stabilitas produksi.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait