Olahraga

Standar Ganda FIFA: Quansah Diskors Dua Laga, Balogun Bebas

Bagikan:
Jarell Quansah menerima kartu merah dan meninggalkan lapangan di Piala Dunia 2026

FIFA memutuskan menjalankan skorsing dua laga untuk bek Inggris Jarell Quansah setelah kartu merah yang diterimanya di Piala Dunia 2026, sementara striker Amerika Serikat Folarin Balogun lolos dari hukuman serupa.

Keputusan Komite Disiplin

Komite Disiplin FIFA menyatakan hukuman akumulasi untuk Quansah bersifat otomatis dan harus dijalankan. Akibatnya, Quansah dipastikan absen saat Inggris melawan Norwegia dan juga untuk laga semifinal bila Inggris lolos.

Detail pelanggaran

Quansah diusir oleh wasit karena melakukan tekel menggunakan dua kaki terhadap pemain Meksiko, Jesus Gallardo. Aksi tersebut dinilai sebagai pelanggaran berbahaya yang memiliki potensi cedera serius.

Perbedaan penanganan kasus Balogun

Pelanggaran serupa terjadi pada Folarin Balogun, yang menginjak engkel bek Bosnia, Tarik Muharemovic. Namun, FIFA menangguhkan hukuman Balogun sehingga ia bisa dimainkan saat pertandingan berikutnya melawan Belgia.

Kontroversi dan campur tangan politik

Keputusan berbeda ini memicu tudingan standar ganda dalam penegakan disiplin FIFA selama turnamen. Ada laporan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menghubungi pihak FIFA beberapa kali terkait kasus Balogun.

Menurut laporan, Trump menelepon FIFA tiga kali dalam sepekan untuk menegosiasikan kartu merah Balogun. Dia kemudian mengumumkan bahwa negosiasi itu berhasil sehingga Balogun dapat bermain.

Dampak di lapangan

Meski Balogun dimainkan, Amerika Serikat tetap kalah telak dari Belgia dengan skor 1-4. Kasus ini memperpanjang perdebatan soal konsistensi keputusan disipliner di ajang internasional.

Relevansi bagi Inggris

Untuk Inggris, keputusan itu berarti kehilangan salah satu beknya dalam momen-momen krusial turnamen. Skorsing dua laga dapat berpengaruh pada susunan pemain dan strategi tim saat memasuki fase gugur.

Kesimpulan

Kasus Quansah dan Balogun menyorot isu konsistensi penegakan aturan di FIFA. Perbedaan perlakuan ini berpotensi menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang transparansi dan proses banding di organisasi sepak bola internasional.

Yoga Prasetyo
Penulis
Yoga Prasetyo

Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.

Berita Terkait