Nasional

Menteri Tinjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 di Merauke

Bagikan:
Menteri meninjau fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 di Merauke, Papua Selatan, pada Kamis, 27 Agustus 2026. Ia mendukung pembangunan SDM melalui pendidikan berkarakter dari jenjang SD hingga SMA dan melihat langsung fasilitas asrama, ruang belajar, serta dukungan teknologi untuk siswa dari keluarga kurang mampu.

Kunjungan dan dorongan semangat belajar

Dalam kunjungan, Menteri Iftitah memberi pembelajaran langsung di kelas untuk mendorong semangat belajar siswa. Ia menyampaikan apresiasi karena beberapa murid adalah keturunan transmigran yang merasa nyaman belajar di sekolah itu.

"Beberapa murid keturunan dari transmigran, ibunya dari Jawa, ayahnya dari Tanah Toraja, bersyukur adanya Sekolah Rakyat terintegrasi. Semuanya merasa betah, mengucapkan terima kasih kepada bapak Presiden, ini adalah gagasan yang bagus sekali untuk kita dukung,"

Fasilitas asrama dan layanan terpadu

Tim peninjau melihat fasilitas asrama yang lengkap, termasuk ruang tidur dengan kasur tingkat, meja belajar, kamar mandi, dan fasilitas penunjang lain. Sekolah menyediakan layanan terpadu sehingga siswa tidak perlu menempuh jarak jauh untuk akses pendidikan dan kesehatan.

"Ada SD, SMP, SMA, sehingga tidak perlu lagi, untuk sekolah harus melintasi jembatan, harus berjalan sampai berkilo-kilo meter. Jadi dia di situs sekolahnya, kemudian di situ rumah tempat tinggalnya, di situ juga fasilitas kesehatannya," ucap Menteri Iftitah.

Sasaran, kurikulum, dan pembiayaan

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 77, Budi Sutomo, menyatakan sekolah ini menggunakan kurikulum yang sama dengan sekolah reguler. Pembiayaan berasal dari Kementerian Sosial dan ditujukan kepada keluarga pada desil 1 dan 2, bukan melalui pendaftaran umum.

"Jadi di sini tidak boleh ada anak-anak titipan dan anak-anak yang di luar desil itu. Anak-anak yang tidak sekolah, anak putus sekolah atau rentan sekolah dari keluarga kurang mampu,"

Budi menambahkan bahwa lahan sekolah seluas 9 hektar disiapkan oleh Pemerintah Daerah Merauke dan pembangunan dimulai Oktober 2026. Sekolah dirancang mampu menampung 1.000 sampai 2.000 siswa terintegrasi (SD, SMP, SMA) dengan fasilitas gratis: asrama, tiga kali makan, seragam, sepatu, dan kebutuhan dasar lain yang dibiayai Kementerian Sosial.

Teknologi untuk memutus rantai kemiskinan

Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 juga menyediakan unit laptop dan akses internet untuk pembelajaran. Langkah ini dimaksudkan untuk membuka akses pendidikan bermutu dan membantu memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan anak dari keluarga kurang mampu.

Implikasi untuk kawasan transmigrasi

Menteri Iftitah menyatakan konsep Sekolah Rakyat Terintegrasi diperlukan di kawasan transmigrasi yang masih terbatas infrastruktur pendidikannya. Ia menilai pembangunan sekolah semacam ini dapat mendorong kawasan transmigrasi menjadi pusat ekonomi baru dan membuat tenaga pendidik betah tinggal di lokasi.

Dengan model terpadu yang menggabungkan pendidikan, tempat tinggal, dan fasilitas kesehatan, diharapkan akses pendidikan bagi anak-anak rentan di Merauke meningkat dan berdampak jangka panjang bagi pengembangan SDM lokal.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait