Lokal

Pemkab Aceh Tengah Sedot Limbah di 2 Huntara, PRR Apresiasi

Bagikan:
Petugas melakukan penyedotan limbah tinja di huntara Kecamatan Ketol

Ketua Posko PRR Aceh, Dr. Safrizal ZA, mengapresiasi respons cepat Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang melakukan penyedotan limbah tinja di dua hunian sementara (huntara) di Kecamatan Ketol pada Senin (22/6). Aksi ini dilakukan untuk mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular setelah fasilitas septic tank komunal dilaporkan meluap.

Aksi cepat penyedotan limbah

Operasi penyedotan limbah dilaksanakan oleh BPBD dan DLHK Aceh Tengah ke dua lokasi huntara yang terdampak, yaitu Huntara Warga Kampung Burlah di Pondok Balik dan Huntara Warga Kampung Bintang Pepara di Jalan Tengah. Tindakan itu dilakukan kurang dari 24 jam setelah ada laporan teknis dari lapangan.

Sudah semestinya di masa kebencanaan pemerintah daerah harus aktif dan tanggap membantu masyarakat. Kami sangat mengapresiasi jajaran Pemkab Aceh Tengah, khususnya BPBD dan DLHK, yang langsung menerjunkan armada sedot tinja ke lokasi begitu menerima laporan teknis,

Temuan lapangan dan rekomendasi

Aksi cepat itu merupakan tindak lanjut rekomendasi tertulis dari Tenaga Ahli Satgas PRR Aceh Posko Wilayah, Zam Zam Mubarak, pada Minggu, 21 Juni 2026. Dalam laporannya Zam Zam menyatakan fasilitas septic tank MCK komunal di Huntara Desa Bintang Pepara sudah penuh dan meluap.

Kondisinya meluap dan sangat berisiko memicu penyebaran penyakit kulit, ISPA, hingga diare, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia di huntara. Ditambah lagi, warga tidak memiliki akses armada sedot WC dan anggaran mandiri,

Isu lanjutan yang perlu intervensi

Selain persoalan sanitasi yang telah ditangani sementara, laporan Satgas PRR Aceh mencatat dua masalah krusial lain di Kecamatan Ketol yang membutuhkan penanganan lebih lanjut:

  • Kerusakan akses ekonomi: ruas jalan produksi menuju perkebunan warga longsor setelah curah hujan tinggi sehingga biaya angkut hasil bumi melonjak.
  • Kerawanan pangan: warga huntara, terutama lansia dan ibu hamil, mulai kekurangan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan telur.

Imbauan koordinasi dan langkah selanjutnya

Menanggapi situasi komprehensif tersebut, Safrizal meminta seluruh Tenaga Ahli Satgas PRR di daerah untuk membangun komunikasi aktif dan sinergis dengan pemerintah daerah setempat. Hal ini dimaksudkan agar setiap persoalan cepat terdeteksi dan pemulihan fisik serta ekonomi pascabencana dapat ditangani bersama.

Keberadaan tenaga ahli di lapangan menjadi faktor penting sebagai penyambung lidah masyarakat dan penggerak instansi teknis. Terus jalin koordinasi agar setiap persoalan di lapangan cepat terdeteksi, dan pemulihan fisik serta ekonomi warga pascabencana bisa diatasi secara bersama-sama,

Penanganan sanitasi darurat di Ketol menunjukkan respons cepat pemerintah daerah terhadap laporan teknis. Namun, kebutuhan perbaikan akses jalan dan bantuan pangan menandakan intervensi lanjutan masih diperlukan untuk mempercepat pemulihan komunitas terdampak.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait