Ekonomi

Rupiah Menguat di Akhir Pekan saat Selat Hormuz Kembali Aktif

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah dan aktivitas kapal di Selat Hormuz

Nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, seiring meningkatnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dan berita data inflasi AS. Mengacu data Bloomberg, rupiah naik 0,12 persen atau 21 poin menjadi Rp17.922 per dolar AS.

Pasar dipengaruhi pembukaan kembali Selat Hormuz

Selat Hormuz yang kembali dibuka mendorong lonjakan lalu lintas kapal meski kondisi politik masih rapuh. Analis mencatat pengiriman minyak mentah mencapai level tertinggi sejak konflik melibatkan AS, Israel, dan Iran meletus.

Meski demikian, jumlah kapal yang melintas masih jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelum konflik, yang biasa mencapai sekitar 125 kapal. Insiden terbaru juga menambah ketidakpastian, yaitu serangan proyektil terhadap kapal berbendera Singapura di dekat perairan Oman.

"Pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz ke level tertinggi sejak pecah konflik AS-Israel dengan Iran,"

Pernyataan di atas disampaikan oleh Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan kondisi pasar akhir pekan ini.

Data inflasi AS membentuk ekspektasi kebijakan The Fed

Selain faktor geopolitik, data inflasi AS untuk Mei 2026 turut memengaruhi sentimen global. Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti sebesar 3,4 persen secara tahunan.

Inflasi PCE total naik menjadi 4,1 persen dari 3,8 persen pada April 2026, sementara laju bulanan tetap di 0,3 persen. Imbasnya, CME Fed Watch Tool menunjukkan ekspektasi penurunan suku bunga berkurang, dan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga meningkat.

Respons domestik: pemangkasan anggaran MBG

Di dalam negeri, pasar merespons positif kebijakan efisiensi anggaran pemerintah terhadap program MBG. Menteri Keuangan menyatakan pemangkasan diperlukan untuk menjaga defisit anggaran tetap terkendali.

Alokasi awal MBG yang semula direncanakan sebesar Rp335 triliun dipangkas menjadi Rp268 triliun. Menurut Ibrahim, alokasi itu kemudian kembali disesuaikan menjadi sekitar Rp228,38 triliun, dan pemerintah mengkaji opsi pemotongan tambahan hingga Rp50 triliun.

"Berdasarkan penyesuaian terbaru, alokasi tersebut dilaporkan kembali mengalami pemotongan menjadi sekitar Rp228,38 triliun. Pemerintah mengkaji opsi pemotongan tambahan hingga Rp50 triliun untuk memperkuat kondisi keuangan negara," ujar Ibrahim.

Intervensi Bank Indonesia

Bank Indonesia merespons tekanan pasar dengan memperkuat intervensi melalui tiga kanal utama. Langkah ini bertujuan menstabilkan nilai tukar dan menjaga dinamika pasar keuangan domestik.

"Bank Indonesia memperkuat intervensi pasar secara agresif melalui tiga lini utama. Yakni di pasar spot, di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN),"

Kesimpulan dan prospek

Ruang gerak rupiah ke depan akan dipengaruhi kombinasi faktor geopolitik di Selat Hormuz, data inflasi AS, serta kebijakan fiskal dan moneter domestik. Jika geopolitik mereda dan kebijakan fiskal-moneter efektif, laju penguatan rupiah bisa berlanjut. Namun, eskalasi konflik atau kejutan data ekonomi dapat membalik sentimen pasar dengan cepat.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait