Pompanisasi Jadi Solusi Atasi Kekeringan Sawah di Tengah El Nino
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyatakan pompanisasi dan penguatan jaringan irigasi menjadi solusi praktis mengatasi kekeringan sawah akibat El Nino. Pernyataan itu disampaikan setelah peninjauan empat titik persawahan di Bekasi dan Cirebon, Jawa Barat, pada Sabtu, 26 September 2026.
Kenapa pompanisasi diperlukan
Dody menjelaskan sumber air sungai masih tersedia, tetapi aliran tidak selalu bisa menjangkau lahan pertanian secara gravitasi. Akibatnya, sawah tetap kekering meski sumber air ada di dekat lokasi.
Dalam kondisi seperti ini, pompa menjadi alat untuk mengangkat air dari sungai ke saluran irigasi sekunder dan tersier sehingga mencapai sawah.
Situasi di Desa Kedongdong, Cirebon
Di Desa Kedongdong, sumber air berada pada posisi lebih rendah dibanding lahan persawahan sehingga aliran gravitasi tidak efektif. Jaringan listrik di sekitar lokasi memungkinkan penggunaan pompa bertenaga listrik sebagai solusi cepat.
"Sumber airnya ada, sungai, dan sungai itu enggak kering juga,"
"Kalau di situ saya lihat banyak tiang listrik, jadi bisa pakai listrik. Pasang saja pompa yang bertenaga listrik,"
Air yang dipompa dapat dialirkan melalui pipa ke saluran sekunder yang sudah ada. Namun, pembangunan saluran tersier masih diperlukan untuk menyalurkan air lebih dekat ke petak sawah.
Dody menyarankan keterlibatan petani untuk membangun saluran tersier sederhana secara gotong royong karena biaya relatif rendah.
"Ajak petani itu bikin bersama-sama. Murah itu, enggak mahal,"
Perkiraan dampak dan langkah tambahan
Dengan skema pompanisasi dan penguatan jaringan, Dody memperkirakan hampir 400 hektare di Kedongdong bisa memperoleh pasokan air secara mudah. Untuk penanganan jangka panjang, opsi seperti sumur bor dan embung dapat dipertimbangkan di wilayah yang berulang kali mengalami kesulitan air.
"Hampir 400 hektare bisa dialiri dengan mudah,"
Data nasional dan langkah Kementerian
Kementerian PUPR mencatat hingga 24 September 2026 penanganan kekeringan telah dilakukan di 3.288 lokasi secara nasional. Dari jumlah itu, 358 lokasi berada di area persawahan dengan cakupan sekitar 141.440 hektare.
Langkah yang dijalankan meliputi pemompaan air sungai menuju sawah, normalisasi saluran irigasi utama dan sekunder, pembuatan saluran darurat, pengaturan giliran air, optimalisasi saluran, serta pemasangan pipa.
Dody menekankan bahwa strategi permanen perlu dikaji lebih mendalam sesuai kondisi tiap wilayah sebelum diputuskan, termasuk penentuan lokasi sumur bor atau embung yang tepat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Buku 'Srivijaya' Diluncurkan di Museum Nasional, Ungkap Jejak Peradaban
Museum Nasional gelar peluncuran buku Srivijaya oleh Herald van der Linde, memaparkan jejak perdagangan, aga...
Prabowo Video Call Atlet: Selamat Emas Pertama Asian Games
Presiden Prabowo video call dan memberi selamat atas medali emas pertama Indonesia di Asian Games 2026 serta...
Kemenkum Terapkan Digitalisasi Penuh 470 Layanan Mulai 1 Oktober
Mulai 1 Oktober 2026, Kementerian Hukum menerapkan digitalisasi penuh 470 layanan publik untuk efisiensi, pa...
Rahmat Erwin Sabet Emas Asian Games 2026, Presiden: Saya Bangga
Rahmat Erwin raih emas kelas 75 kg Asian Games 2026 dengan total 366 kg; Presiden Prabowo menelepon dan meny...
MPR Luncurkan Dua Buku Sejarah Konstitusi UUD 1945
MPR meluncurkan dua buku yang merekam pergulatan pemikiran dan debat saat amendemen UUD 1945 (1999–2002), di...
KemenPPPA Dorong Perempuan Jadi Penggerak Ketahanan Pangan
KemenPPPA luncurkan Kebun Pangan Perempuan untuk tingkatkan pemanfaatan pangan lokal, ekonomi perempuan, dan...