Politik

Guntur Wahono: Persiapkan Gen Z Sambut Indonesia Emas 2045

Bagikan:
Guntur Wahono berbicara pada Sowan PDI Perjuangan bersama Gen Z di Blitar

Blitar — Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono, menekankan pentingnya persiapan generasi muda menghadapi Indonesia Emas 2045. Pernyataan itu disampaikan saat Sowan bertema demokrasi dan bonus demografi bersama generasi Z di Feeling Caffe, Talun, Kabupaten Blitar, Minggu (27/9/2026). Guntur menilai, jumlah saja tidak cukup; Gen Z harus meningkatkan kapasitas, wawasan, dan semangat berjuang untuk kepentingan masyarakat.

Sowan: diskusi demokrasi dan bonus demografi

Acara menghadirkan Pimpinan Wilayah IPNU Jatim Muhammad Yahya dan Ketua KPU Kota Blitar Rangga Bisma Aditya. Diskusi dimoderatori Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Blitar, Aryo Nugroho. Materi menghubungkan pemikiran Bung Karno, prinsip demokrasi, dan konsekuensi bonus demografi bagi pembangunan nasional.

Kesiapan generasi sebagai penentu 2045

Guntur menegaskan bahwa keberhasilan menuju 2045 sangat bergantung pada kualitas generasi muda yang tengah tumbuh saat ini. Ia meminta pemerintah dan masyarakat bersama-sama menyiapkan calon pemimpin masa depan dengan pelatihan dan pembekalan yang memadai.

“Kalau kita menginginkan 2045 sebagai tahun emas, tentu harus diisi oleh generasi muda. Menyiapkan mereka menjadi calon pemimpin masa depan merupakan kewajiban yang harus dilakukan secara bersama, termasuk oleh pemerintah,”

Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif keluarga. Peran kebijakan publik dan anggaran pendidikan menjadi kunci agar kapasitas generasi muda sesuai kebutuhan era mendatang.

Peran pemerintah dan mekanisme aspirasi

Guntur menekankan bahwa pemerintah harus memberi ruang lebih luas bagi pengembangan potensi pemuda melalui program yang berbasis aspirasi masyarakat. Ia menyebutkan bahwa fasilitas melalui APBD Jawa Timur dapat direalisasikan apabila ada usulan dari masyarakat.

“Pemerintah akan memfasilitasi manakala masyarakat mengusulkan. Kalau masyarakat tidak pernah menyampaikan usulan, pemerintah bisa menganggap mereka tidak membutuhkan. Karena itu, ruang komunikasi seperti ini penting,”

Tantangan digital dan pengembangan kapasitas

Muhammad Yahya menyorot bahwa bonus demografi bukan sekadar besarnya populasi usia produktif. Yang lebih penting adalah peningkatan kapasitas agar pemuda mampu menjadi kekuatan pembangunan. Salah satu tantangan utama adalah revolusi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).

“Banyak yang sudah familiar dengan istilah bonus demografi, tetapi belum semuanya memahami apa yang harus dipersiapkan. Karena itu, Gen Z harus mengetahui tantangannya dan mempersiapkan kapasitas diri secara bertahap,”

“Literasi harus terus diperbaiki dan diperbanyak. Harapannya, teman-teman Gen Z bisa menjadi agen perubahan yang benar-benar menguasai perkembangan, termasuk AI dan dunia digital,”

Yahya juga mendorong pemuda untuk mengenali potensi diri dan membangun kemampuan kolaborasi, seperti public speaking atau keterampilan digital.

Guntur Wahono berbicara pada Sowan PDI Perjuangan bersama Gen Z di Blitar

Pendidikan politik dan peran kritis pemuda

Aryo Nugroho mengingatkan bahwa generasi muda perlu sikap kritis terhadap kebijakan publik. Kemudahan akses teknologi tidak boleh menggantikan kemampuan memahami substansi kebijakan.

“Generasi muda harus tetap berpikir secara mendasar dan kritis terhadap setiap kebijakan yang dilaksanakan pemerintah. Mereka harus mampu mengambil peran, baik melalui gagasan maupun aksi nyata,”

Aryo menilai pendidikan politik penting agar anak muda tidak apatis dan dapat berkontribusi menentukan arah pembangunan, termasuk melalui ekonomi kreatif dan sektor produktif lainnya.

Kesimpulan: dari wacana ke aksi

Para pemateri sepakat bahwa bonus demografi akan bernilai jika diikuti peningkatan kemampuan. Forum seperti Sowan di Blitar bertujuan mendorong Gen Z memperluas wawasan, meningkatkan literasi digital, dan berani terlibat dalam politik serta pemerintahan. Tanpa persiapan nyata, potensi demografi justru bisa menjadi tantangan bagi pembangunan nasional.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait