Nasional

Menteri PPPA Dorong Integrasi Perlindungan Anak di Semarang

Bagikan:
Menteri PPPA dan Wali Kota Semarang mendiskusikan perlindungan anak dan fasilitas ramah anak

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, mendorong Kota Semarang memperkuat ekosistem perlindungan anak lewat integrasi lintas sektor. Pernyataan itu disampaikan pada Senin, 14 September 2026, saat kementerian menekankan pentingnya respons terpadu menghadapi tantangan digital dan perubahan sosial.

Dorongan integrasi lintas sektor

Arifah menyatakan kebijakan perlindungan komprehensif harus memastikan pemenuhan hak dasar generasi muda dan beroperasi secara berkelanjutan. Ia menekankan layanan publik mesti saling terhubung untuk mendukung keluarga dan pemberdayaan perempuan.

"Kita perlu melihat apakah seluruh layanan sudah terhubung dalam satu ekosistem yang mendukung keluarga dan memberdayakan perempuan. Ekosistem tersebut juga harus mampu memastikan perlindungan anak dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan,"

Hindari ego sektoral dan libatkan anak

Kementerian memperingatkan lembaga daerah wajib menghindari ego sektoral agar penanganan kasus kekerasan dapat berjalan optimal. Pelibatan aktif anak dalam merumuskan solusi sosial menjadi prioritas untuk memastikan suara mereka terdengar.

"Persoalan yang dianggap penting oleh orang dewasa belum tentu sama dengan persoalan yang dirasakan anak-anak. Bunda ingin mendengar apa yang kalian rasakan sebagai anak Indonesia dan calon pemimpin masa depan,"

Pengawasan dampak digital dan peran pendamping

Kementerian juga meminta pengawasan ketat terhadap dampak negatif penggunaan gawai dan media sosial pada kesehatan mental anak. Orang tua dan pendidik didorong mendampingi aktivitas digital agar anak terhindar dari paparan konten berbahaya.

Respons Pemkot Semarang dan fasilitas ramah anak

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyambut arahan kementerian dan berkomitmen memperluas ruang ekspresi kreatif bagi anak muda. Pemkot akan menyediakan fasilitas publik yang ramah anak untuk mendukung pembangunan kota berkelanjutan.

"Anak-anak perlu diberikan ruang yang cukup untuk berkembang, berkreasi, dan mengekspresikan potensi mereka secara positif. Kami ingin anak dapat menyampaikan aspirasi serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan di Kota Semarang,"

Langkah prioritas dan harapan ke depan

Kolaborasi lintas pemangku kepentingan di tingkat lokal diharapkan mampu mencetak generasi unggul yang siap memimpin masa depan. Sinergi antarinstansi dinilai efektif menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di daerah.

Secara ringkas, fokus kebijakan meliputi:

  • Integrasi layanan publik dalam satu ekosistem
  • Hindari ego sektoral antarlembaga
  • Pelibatan langsung anak dalam perumusan kebijakan
  • Pengawasan penggunaan gawai dan pendampingan digital
  • Penyediaan fasilitas publik ramah anak

Implementasi langkah ini akan menjadi penentu keberhasilan perlindungan anak di Semarang dan dapat menjadi model bagi daerah lain.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait