Teknologi

President University Perkuat Pemantauan Lingkungan dengan AI

Bagikan:
Drone dan AI untuk pemantauan lingkungan di area industri

President University bersama University of Southern Queensland dan PT Jababeka memperkuat pemantauan lingkungan dengan pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan drone. Program yang didanai hibah kerja sama Indonesia–Australia senilai sekitar AU$42.000 berlangsung Juli–September 2026 dan menghadirkan workshop serta kompetisi mahasiswa untuk mendukung pelaporan keberlanjutan.

Kolaborasi dan pendanaan

Kolaborasi itu mendapat dukungan hibah dari Pemerintah Australia. Program menghubungkan perguruan tinggi, penyedia teknologi, dan pelaku industri untuk memperluas ketersediaan data lingkungan yang terukur.

Salah satu kegiatan utama adalah workshop tentang pelaporan keberlanjutan dan pemanfaatan teknologi yang digelar pada 3 September 2026. Pengumuman pemenang International Young Essay Competition dilaksanakan pada 4 September 2026, setelah lebih dari 200 tim dari 14 negara berpartisipasi.

Teknologi: drone dan AI

Para ahli menekankan bahwa kombinasi drone dan AI dapat menghasilkan data yang lebih luas dan mudah direproduksi. Drone kecil mampu membawa sensor gas dan partikulat untuk sampling udara di berbagai lokasi dan ketinggian.

Berbeda dengan stasiun tetap, drone dapat menjangkau area sulit diakses dan memetakan sebaran polutan secara dinamis. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan AI untuk mengidentifikasi pola perubahan kondisi lingkungan.

Dampak pada pelaporan keberlanjutan

Workshop juga membahas perkembangan standar pelaporan di Indonesia, termasuk PSPK 1 dan PSPK 2 yang mengadopsi IFRS S1 dan IFRS S2. Standar ini direncanakan mulai wajib digunakan pada 2027.

Pemantauan yang kredibel menjadi penting karena berhubungan langsung dengan nilai perusahaan dan biaya pendanaan, menurut salah satu narasumber.

“Pengungkapan lingkungan dan keberlanjutan yang kredibel berkaitan dengan nilai perusahaan lebih tinggi. Hal itu juga berkaitan dengan biaya pendanaan lebih rendah,” kata Prof. Syed Shams dari University of Southern Queensland.

Prof. Zahra Gharineiat menambahkan bahwa data yang dapat diukur dan dikumpulkan berulang menjadi dasar pengelolaan dan pertanggungjawaban lingkungan.

“Data yang terukur dan dapat dilakukan secara berulang mengubah anggapan kualitas udara baik. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengambil tindakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan lingkungan,” ujarnya.

Kaitannya dengan risiko bisnis

Ketua Program Studi Akuntansi President University, Supeni Mapuasari, mengingatkan bahwa perubahan iklim dan kondisi lingkungan bisa memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Dampak muncul lewat risiko operasi, aset, investasi, hingga arus kas.

“Data lingkungan yang terukur penting agar perusahaan memahami risiko dan mengambil keputusan yang tepat. Data tersebut juga dapat dihubungkan dengan pelaporan keberlanjutan,” kata Supeni.

Kepala Kepatuhan Regulasi Kawasan PT Jababeka Infrastruktur, Istringani, menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan dan menyatakan bahwa AI serta drone dapat mendukung ketersediaan data sebagai dasar pengelolaan lingkungan.

Keterlibatan mahasiswa dan pengembangan kapasitas

Program juga melibatkan mahasiswa melalui kompetisi esai internasional. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan praktik dan teknologi keberlanjutan yang relevan bagi dunia kerja, sekaligus membuka wawasan tentang keahlian baru yang diperlukan saat memasuki dunia profesional.

Kesimpulannya, inisiatif ini memperkuat upaya pemantauan lingkungan berbasis data dan mendukung kesiapan pelaporan keberlanjutan menjelang pemberlakuan PSPK. Langkah ini diharapkan meningkatkan transparansi lingkungan dan membantu perusahaan mengelola risiko secara lebih objektif.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait