Ngertakeun Bumi Lamba: Ritual Sunda di Tangkuban Perahu 21 Juni 2026
Ngertakeun Bumi Lamba ke-18 akan digelar pada Minggu, 21 Juni 2026, di Gunung Tangkuban Perahu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Upacara ini bertujuan menyucikan gunung dan menjaga keseimbangan alam sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Sunda.
Makna inti upacara
Ritual tahunan tersebut menegaskan bahwa bumi adalah titipan, bukan milik manusia. Pelaksanaan menjadi momen untuk menyatukan berbagai kelompok masyarakat dalam penghormatan terhadap alam dan leluhur.
Upacara juga mengajarkan tanggung jawab kolektif menjaga sumber daya alam, termasuk tanaman subur dan sumber air, agar kehidupan masyarakat tetap sejahtera.
Filosofi Sunda dan akar peradaban
Filosofi Ngertakeun Bumi Lamba berakar pada pandangan hidup Sunda yang menempatkan manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari alam. Nilai ini diwariskan lewat rajah, kidung, dan ajaran leluhur.
Konsep 'Ibu Bumi, Bapak Angkasa' menjadi simbol hubungan manusia dengan alam sebagai sumber kehidupan yang harus dirawat dan dihormati.
Manunggal rasa dengan semesta
Urang jeung alam taya antarana, mun aya antarana urang rek cicing dimana?
Ungkapan tradisional itu berarti manusia dan alam tidak memiliki batas pemisah. Pesan ini mendorong hidup selaras dan keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan Sang Pencipta.
Raga dan rasa: nganuhunkeun
Tradisi menekankan nganuhunkeun, yaitu kesadaran dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Sikap ini diyakini membawa ketenteraman dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui rasa syukur, masyarakat diharapkan membangun hubungan yang lebih baik dengan lingkungan sekitar dan menjaga kelestarian alam.
Peran manusia sebagai penjaga alam
Nilai Ngertakeun Bumi Lamba sejalan dengan ajaran Prabu Siliwangi dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian. Ajaran tersebut menekankan merawat tempat suci, hutan, dan sumber air.
Menjaga keseimbangan alam dianggap kunci ketahanan pangan dan kesejahteraan komunitas. Karena itu, pelestarian lingkungan dipandang sebagai tanggung jawab bersama.
Rangkaian prosesi upacara
Prosesi akan dimulai pada pukul 08.30 WIB di lokasi upacara. Kegiatan ini meliputi ritual penyucian, pembacaan kidung, dan simbolisasi pemeliharaan alam oleh masyarakat setempat.
Pelaksanaan bertujuan memohon kesejahteraan alam semesta, berupa tanaman subur, air terjaga, dan kehidupan manusia yang sejahtera.
Salah satu prosesi dalam upacara Ngertakeun Bumi Lamba di Tangkuban Perahu.
Implikasi dan lanjutan
Ngertakeun Bumi Lamba bukan sekadar upacara ritual. Ia mengingatkan bahwa pelestarian alam dan rasa syukur menjadi pondasi kesejahteraan sosial.
Ke depan, tradisi ini berpotensi memperkuat kesadaran lingkungan dan mempererat toleransi antar kelompok. Pelestarian nilai leluhur juga menjadi instrumen penting dalam upaya menjaga kelestarian alam.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Jakarta Sambungkan Hotel di Bundaran HI ke MRT lewat Koridor Bawah Tanah
Pemprov DKI rencanakan koridor bawah tanah Hubungkan hotel di Bundaran HI ke MRT untuk kurangi kemacetan dan...
POTEK Dance Fest 2026 Semifinal Bandung: 10 Finalis Unjuk Gigi di Festlink Mall
POTEK Dance Fest 2026 menggelar semifinal di Festlink Mall Bandung dengan 10 finalis dan ribuan penonton yan...
Tanggal 1 Juli: Hari Bhayangkara, Hari Buah, Lelucon & Canada Day
Tanggal 1 Juli diperingati sebagai Hari Bhayangkara, Hari Buah Sedunia, Hari Lelucon Internasional, dan Cana...
Bernadya Andalkan Galaxy S26 Ultra untuk Abadikan Momen Spontan
Musisi Bernadya memakai Galaxy S26 Ultra untuk merekam dan mengedit momen spontan, termasuk konser dengan pe...
Semarak Muharram: YBM PLN Jabar Bantu 100 Anak Yatim Rp500 Ribu
YBM PLN UID Jawa Barat menyalurkan Rp500 ribu untuk 100 anak yatim dhuafa melalui program Semarak Muharram,...
Hari Asteroid Internasional: Mengingat Tunguska dan Siaga Asteroid
30 Juni diperingati sebagai Hari Asteroid Internasional untuk mengenang Tunguska 1908 dan memperkuat kesiaps...