Kontroversi Pemutaran Dokumenter Pesta Babi soal Papua
Jakarta. Pemutaran dokumenter Pesta Babi: Colonialism in Our Time oleh Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale memicu kontroversi setelah beberapa pemutaran publik dan diskusi kampus diganggu; militer memperingatkan potensi narasi tidak seimbang, sementara pemerintah menegaskan tidak pernah memerintahkan pelarangan resmi.
Apa isi film dan klaim pembuat
Film investigasi berdurasi 95 menit ini menyorot Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan. Para pembuat menyatakan proyek itu mengancam hak atas tanah adat, hutan, dan lingkungan setempat. Mereka menggabungkan riset sejarah, antropologi, jurnalistik investigasi, dan analisis kebijakan untuk membingkai isu-isu tersebut dalam kerangka yang mereka sebut colonialism.
Respons militer dan kekhawatiran stabilitas
Pihak militer wilayah mengimbau publik berhati-hati terhadap apa yang disebutnya sebagai "narasi tidak seimbang" terkait Papua. Mereka menekankan bahwa setiap film yang diputar secara publik harus mematuhi aturan sensor dan memiliki sertifikasi dari Lembaga Sensor Film (LSF).
"Kami mengimbau masyarakat bijak dalam menyaring informasi. Konten yang belum melalui proses sensor resmi bisa memuat narasi tidak seimbang dan berpotensi menimbulkan misinformasi," kata Kolonel Tri Purwanto, juru bicara Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih.
Tri juga memperingatkan bahwa narasi visual yang tidak terkontrol dapat menimbulkan kesalahpahaman dan berisiko mengganggu stabilitas sosial di Papua, yang sedang menjadi fokus berbagai proyek pembangunan dan ketahanan pangan.
Penegasan pemerintah: bukan larangan
Menteri Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra, menolak adanya arahan pemerintah untuk melarang pemutaran film itu. Ia menyatakan beberapa penghentian pemutaran di kampus bersifat administratif, sementara pemutaran di lokasi lain berjalan tanpa gangguan.
"Tidak semua kampus melarang pemutaran dokumenter. Di beberapa tempat penghentian terjadi karena prosedur administratif, sedangkan di kampus lain film diputar tanpa gangguan," ujar Yusril.
Yusril menyatakan kritik terhadap proyek pemerintah merupakan bagian dari fungsi demokrasi, meski ia mengakui judul dan pesan film bersifat provokatif. Ia mengimbau agar publik menonton terlebih dahulu, lalu mengadakan diskusi agar masyarakat dapat bersikap lebih kritis.
"Biarkan publik menonton film, lalu mengadakan diskusi dan debat. Dengan demikian publik bisa lebih kritis dan muncul perbedaan pendapat," tambahnya.
Reaksi pembuat film
Salah satu pembuat, Cypri Paju Dale, menilai upaya menghentikan pemutaran dipicu penggunaan kata colonialism dalam judul. Ia menyebut kata tersebut dipakai sebagai kerangka analisis untuk menjelaskan keterkaitan konflik, pelanggaran HAM, keterbelakangan, deforestasi, dan militerisasi di Papua.
"Film ini sedang dicegah oleh pihak tertentu agar tidak menjangkau audiens yang lebih luas. Banyak pihak tidak ingin apa yang terjadi di Papua diketahui publik," kata Cypri.
Dampak dan langkah ke depan
Kontroversi ini membuka perdebatan tentang kebebasan berekspresi, prosedur sensor, dan cara pemerintah menanggapi kritik pembangunan. Pemerintah mengatakan kritik bisa menjadi bahan evaluasi pelaksanaan proyek di lapangan, sementara pembuat film mengharapkan ruang bagi penonton untuk menilai sendiri bukti yang disajikan.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kelanjutan pemutaran film, respons institusi pendidikan, dan kemungkinan dialog terbuka antara pemerintah, militer, akademisi, serta pembuat film.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Maroon 5 Konser di JIS 5 Februari 2027, Tiket Rp1,25–4,9 juta
Maroon 5 tampil di JIS pada 5 Feb 2027; tiket Rp1,25–4,9 juta sebelum pajak. Penjualan dimulai 26–29 Agustus...
Bayern Munich Rayakan HUT RI dengan Ilustrasi Pemain Berpakaian Sarung
Bayern Munich merayakan HUT RI dengan ilustrasi pemain memakai sarung dan ucapan dalam bahasa Indonesia, dis...
Nomor Darurat di Indonesia: 112, 119, 110, 113, 115
Simpan nomor darurat Indonesia sebelum berangkat: 112, 119, 110, 113, 115 untuk respons cepat pada medis, ke...
Semesta Berpesta Tutup Tur di Jakarta, JKT48 hingga Raisa Tampil
Semesta Berpesta menutup tur di Jakarta 15–16 Agustus di GBK, menampilkan JKT48, Raisa, RAN, Rizky Febian, w...
10 Permainan Tradisional Lomba 17-an yang Paling Digemari
Ringkasan 10 permainan tradisional lomba 17-an yang kerap memeriahkan perayaan HUT RI, dari makan kerupuk hi...
Dermatitis Atopik Anak: Dampak pada Tidur, Keluarga, dan Cara Mengatasinya
Dermatitis atopik pada anak menyebabkan gatal, gangguan tidur, dan beban bagi keluarga; edukasi serta perawa...