Rupiah Melemah Dorong Lonjakan Permintaan Mutiara Lombok
Lombok — Melemahnya rupiah sejak awal 2026 mendorong kenaikan pesanan mutiara dari Lombok ke luar negeri, terutama Malaysia dan Singapura. Permintaan ekspor meningkat signifikan karena produk Indonesia kini lebih murah dalam nilai mata uang asing, sementara biaya produksi juga naik akibat komponen impor.
Lonjakan permintaan ekspor
Indah Purwanti, pengusaha mutiara di Lombok, mengatakan pesanan internasional naik tajam pada paruh pertama 2026 dan tumbuh lebih cepat dibanding pasar domestik yang tahun lalu menyumbang sekitar 90% dari penjualannya. Menurutnya, kenaikan terutama datang dari Malaysia dan Singapura.
"Sejak awal 2026, kami melihat banyak permintaan dari Malaysia dan Singapura," kata Indah.
Ia menyebut strategi pemasaran yang lebih agresif, seperti mengikuti pameran internasional dan promosi digital di media sosial, berhasil memperkenalkan mutiara Lombok ke pasar global.
Pendorong: nilai tukar dan pemasaran
Depresiasi rupiah membuat produk Indonesia menjadi lebih kompetitif bagi pembeli luar negeri. Indah menambahkan bahwa penguatan mata uang negara tetangga membuat harga produk Indonesia tampak lebih murah setelah konversi.
"Pembeli asing melihat produk kami lebih murah saat dikonversi ke mata uang mereka," ujar Indah.
Jenis perhiasan yang paling dicari adalah kalung, anting, dan bros. Sebaliknya, penjualan mutiara lepas untuk transaksi bisnis-ke-bisnis justru melambat.
Biaya produksi meningkat
Meskipun permintaan naik, keuntungan belum meningkat sebanding. Banyak komponen pembuatan perhiasan — seperti setting perak, rangka, dan kemasan — diimpor dan dihargai dalam valuta asing, sehingga biaya naik ketika rupiah melemah.
"Biaya naik karena sebagian bahan baku kami diimpor," kata Indah.
Selain itu, volatilitas harga emas turut menambah tekanan biaya, sehingga pelaku usaha terpaksa menyesuaikan harga jual sambil tetap mempertahankan kualitas produk.
Harga, jenis, dan prospek pariwisata
Lombok terkenal dengan South Sea pearls berkualitas tinggi yang termasuk paling bernilai di dunia. Perkiraan harga pasar saat ini:
- Mutu South Sea: sekitar Rp 150.000 hingga lebih dari Rp 500.000 per gram (sekitar US$8–28).
- Mutu air tawar: berkisar Rp 15.000–Rp 50.000 per butir.
- Mutu premium dengan kilau luar biasa dan dirangkai emas atau perak bisa bernilai jutaan hingga puluhan juta rupiah.
Indah menganggap pelemahan rupiah juga membuka peluang menarik lebih banyak turis internasional karena biaya perjalanan dan belanja relatif lebih murah bagi wisatawan asing.
"Jika lebih banyak turis datang, hotel, bandara, dan usaha kecil akan ikut merasakan manfaat. Dampaknya menyebar ke seluruh daerah," ujar Indah.
Untuk konteks pasar mata uang, data menunjukkan rupiah sempat menguat tipis pada Sabtu pagi, naik 9 poin atau 0,05% ke Rp 17.836 per dolar AS di pasar spot. Meski begitu, pelaku usaha mutiara bakal terus memantau pergerakan valuta dan harga bahan baku untuk menyesuaikan strategi ekspor dan produksi ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Dua Anak Muda Bali Juara Putra Putri Batik Nusantara 2026
Kadek Wijaya dan Putu Paramitha terpilih Grand Winner PPBN 2026 di Cibubur; diharapkan menguatkan peran gene...
Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara 2026 Dibuka, Pendaftaran 28 Sep–10 Okt
Pendaftaran Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara 2026 dibuka 28 Sep–10 Okt untuk siswa kelas V–VI SD/MI; 36 s...
Kemenkes: Deteksi H3N2 'Superflu' Lebih Rendah pada 2026
Kemenkes: meski influenza meningkat, deteksi H3N2 subclade K ('superflu') lebih rendah pada 2026 dibanding 2...
Merah Putih Bertanya: 750 Aktor Reenaksi Insiden Hotel Yamato
750 aktor menampilkan kembali insiden Hotel Yamato pada Sabtu, merekonstruksi penurunan dan pengoyakan bende...
Kementerian Kebudayaan Gelar Pentas KILA 2026 untuk Bangkitkan Lagu Anak
Kementerian Kebudayaan menggelar Pentas KILA 2026 di Jakarta untuk menghidupkan kembali lagu anak dan mengem...
Perpustakaan Danantara Resmi Dibuka di Museum Nasional
Perpustakaan Danantara resmi dibuka 25 September 2026 di Museum Nasional; koleksi langka bisa dibaca gratis...