MTI: Harga Bus Listrik Masih Mahal, Pemerintah Diminta Geser Insentif
JAKARTA, 20 September 2026 — Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai harga bus listrik masih terlalu tinggi sehingga menjadi penghambat adopsi di pemerintah daerah meski ada kebijakan insentif PPN. MTI mendorong pemerintah mengalihkan fokus subsidi dari kendaraan pribadi ke penguatan armada bus listrik perkotaan untuk mencapai keadilan sosial dan efisiensi fiskal.
Insentif PPN dan kendala harga
Pemerintah telah menurunkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk bus listrik dari 11 persen menjadi 1 persen bagi kendaraan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen. Namun MTI menilai keringanan pajak itu belum cukup menutup selisih harga yang masih jauh lebih tinggi dibanding bus konvensional.
Akibatnya, banyak pemerintah daerah masih ragu mengalokasikan anggaran untuk membeli bus listrik, terutama ketika anggaran transportasi publik terbatas dan ada kebutuhan prioritas lain di daerah.
Keuntungan memperkuat angkutan umum listrik
MTI menekankan bahwa dukungan untuk angkutan umum elektrik memiliki dampak sosial yang lebih luas dibandingkan insentif untuk kendaraan pribadi. Pengembangan armada bus listrik dianggap mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat dan meningkatkan pemerataan layanan transportasi.
“Alokasi anggaran negara pun menjadi lebih berkeadilan sosial karena menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok berpenghasilan rendah,”
Selain aspek sosial, MTI juga menyoroti manfaat lingkungan dan keselamatan. Peralihan dari sepeda motor ke bus listrik dinilai dapat mengurangi kemacetan dan menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di perkotaan.
“Bus listrik mendorong migrasi pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum. Satu bus listrik berkapasitas besar sanggup menggantikan 40–60 sepeda motor di jalan, sehingga efektif mengurangi kemacetan,”
Rekomendasi kebijakan MTI
MTI menyarankan pemerintah mengevaluasi kembali arah kebijakan insentif nasional untuk kendaraan listrik. Alih-alih memprioritaskan subsidi untuk motor listrik pribadi, dukungan fiskal dan kebijakan sebaiknya difokuskan pada peningkatan ketersediaan dan keterjangkauan bus listrik perkotaan.
“Sudah saatnya pemerintah menggeser fokus dari subsidi motor pribadi menuju penguatan armada bus listrik perkotaan demi mewujudkan keadilan sosial, ruang kota yang manusiawi, dan masa depan fiskal yang berkelanjutan,”
Peralihan kebijakan ini dianggap penting untuk mendorong transformasi transportasi kota yang lebih berkelanjutan dan menyasar manfaat jangka panjang bagi mobilitas publik dan fiskal negara.
Reporter otomotif yang membahas kendaraan terbaru, teknologi otomotif, dan industri transportasi.
Berita Terkait
TVS Donasikan 100 Helm SNI untuk Keselamatan Anak
TVS Indonesia mendonasikan 100 helm SNI dan menggelar edukasi keselamatan di SDN Gandaria Utara 11 sebagai b...
Mitsubishi Fuso Tampilkan Solusi Cold Chain Terintegrasi di Expo
Mitsubishi Fuso pamerkan Canter FE 71L dan Runner Telematics Cold Chain Package di Food Transport & Logistic...
Lima Model Wuling Capai TKDN 60%, Perkuat Produksi Lokal
Wuling mengumumkan lima model EV kini memiliki TKDN 60%, didukung perakitan baterai dan komponen lokal untuk...
Mekanik Bengkel di Banjarmasin Raih Rp1 Miliar dari Miliarder Yamaha
Rahman, mekanik asal Alalak Banjarmasin, memenangkan Rp1 miliar lewat program Miliarder Yamaha setelah membe...
Vespa Primavera 180 Hadir dengan Warna Baru Pink Sofisticato
Vespa Primavera 180 meluncurkan warna baru Pink Sofisticato untuk menambah pilihan personalisasi, hadir seja...
Checklist Perawatan Baterai Mobil Listrik agar Awet dan Tidak Cepat Rusak
Perawatan baterai mobil listrik penting untuk menghindari kerusakan dan biaya besar; cek rutin, atur pengisi...