Hiburan

Eka Kurniawan Ungkap Proses Naskah Monster Pabrik Rambut

Bagikan:
Poster film Monster Pabrik Rambut menampilkan suasana pabrik dan siluet monster

Eka Kurniawan menjelaskan proses awal penulisan naskah film Monster Pabrik Rambut, hasil kolaborasinya kembali dengan sutradara Edwin. Ide cerita muncul setelah diskusi pasca proyek sebelumnya pada 2021, dikembangkan menjadi puluhan draf selama hampir dua tahun, dan film ini tayang di bioskop sejak 4 Juni 2026 setelah world premiere di Berlinale 2026.

Perbedaan nulis novel dan skenario

Eka menekankan perbedaan mendasar antara menulis novel dan skenario. Menurutnya, menulis novel bersifat individual, sementara skenario adalah kerja tim yang dinamis.

"Orang sering tanya, apa bedanya nulis novel dan skenario? Sederhananya, menulis novel itu pekerjaan individual, sementara menulis skenario film itu pekerjaan tim," kata Eka Kurniawan.

Ia menambahkan, saat menulis novel dirinya menghadapi kebuntuan seorang diri. Sedangkan skenario menuntut penyesuaian karena melibatkan sutradara, kru, dan aktor.

Dari premis sederhana ke belasan draf

Awal cerita lahir dari obrolan sederhana dengan Edwin. Eka mulai menulis dari premis berupa gangguan tidur akibat lembur yang berujung pada munculnya halusinasi. Premis itu berkembang menjadi latar pabrik dan akhirnya menjadi naskah yang mengalami belasan versi selama proses hampir dua tahun.

"Setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Edwin bertanya, bikin apa lagi ya?. Jawaban saya, yuk bikin cerita dari nol," ujar Eka.

Riset di pabrik wig dan penguatan atmosfer

Perjalanan riset membawa Eka dan Edwin ke sebuah pabrik wig. Mereka melihat gudang penyimpanan dan peralatan produksi yang menurut mereka menimbulkan suasana menyeramkan. Pengalaman lapangan itu membantu mempertegas atmosfer horor dalam naskah.

Inspirasi visual dan penciptaan monster

Edwin menyebut sejumlah referensi masa kecil sebagai sumber inspirasi penciptaan sosok monster. Komik-komik Indonesia era 1980-an menjadi rujukan utama, selain film-film era yang menonjolkan efek praktikal sederhana namun berkesan.

"Komik Indonesia dibumbui dengan banyak cerita komedi, action, dan juga horor. Bahkan komik Petruk dan Gareng yang harusnya komedi saja bisa jadi horor," kata Edwin.

Edwin menilai efek praktikal yang tampak sederhana justru meninggalkan kesan kuat bagi penonton.

Tema sosial: budaya kerja berlebihan

Meski mengusung elemen fantasi, film ini tetap berakar pada kondisi sosial. Edwin menyebut budaya kerja berlebihan yang dinormalisasi sebagai sumber ketakutan yang ingin dieksplorasi.

"Kita berada di sebuah kondisi yang bisa dibilang cukup horor. Karena kita seperti tidak punya kontrol terhadap diri kita sendiri dan memberikan segala sesuatunya secara berlebihan kepada pekerjaan," ujar Edwin.

Pemain dan rilis

Film ini menampilkan Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kiki Narendra. Setelah diputar perdana di Berlinale 2026, film ini mulai tayang di bioskop Indonesia pada 4 Juni 2026.

Dengan paduan riset lokasi, referensi budaya pop, dan tema sosial yang relevan, Monster Pabrik Rambut berupaya menghadirkan horor yang menggabungkan fantasi dan realitas kerja modern.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait