Menbud Fadli Zon Tekankan Pentingnya Literasi Keris Nusantara
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya literasi keris untuk meningkatkan pemahaman publik terhadap warisan budaya Nusantara. Pernyataan itu disampaikan usai Peringatan Hari Keris Nasional di Museum Pusaka TMII, Jakarta Timur, Sabtu malam, 23 Mei 2026. Menbud mendorong agar keris dipandang tidak hanya dari sisi mistis, tetapi juga sebagai karya seni dan ekspresi budaya leluhur.
Pentingnya literasi untuk pemahaman utuh
Fadli mengatakan persepsi masyarakat seringkali mengaitkan keris dengan unsur spiritual atau "isi" yang melekat pada benda tersebut. Karena itu, menurutnya, literasi menjadi kunci agar masyarakat memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang keris.
"Kalau kita bicara soal keris, pertanyaan pertama pasti adalah ada isinya. Selalu adalah ada isinya. Jadi disitulah kita perlu literasi, literasi sekarang ini,"
Menurut Fadli, peningkatan literasi melibatkan publikasi buku, siniar, dan kolaborasi budayawan serta penulis. Inisiatif ini dinilai perlu untuk mereduksi mitos dan memperkuat apresiasi terhadap nilai artistik keris.
Dua pendekatan memahami keris
Menbud memaparkan ada dua pendekatan utama dalam memahami keris: eksoteris dan esoteris. Pendekatan eksoteris menyorot bentuk, keindahan, dan nilai artistik. Sementara pendekatan esoteris berkaitan dengan nilai spiritual dan filosofi yang melekat pada keris.
"Tapi dua hal ini sebetulnya memang tidak bisa dipisahkan antara yang esoteris dan yang eksoteris. Ini merupakan satu perwujudan atau manifestasi dari karya nenek moyang kita,"
Fadli menekankan bahwa penggabungan kedua aspek itu memperkaya makna keris sebagai warisan budaya sekaligus karya seni rupa.
Pembinaan perdagangan dan penguatan komunitas
Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) menyatakan melakukan pembinaan kepada pelaku perdagangan keris untuk mendorong tata kelola yang lebih baik. Pembinaan meliputi manajemen perdagangan, strategi pemasaran, serta penerapan kode etik dalam bursa keris.
"Kami membina para pedagang. Bagaimana manajemen dan tata kelola perdagangan itu bisa ditata dengan baik,"
Basuki Teguh Yuwono, Sekretaris Jenderal SNKI, menambahkan pembinaan ini juga bertujuan meningkatkan kepercayaan publik terhadap pasar keris. SNKI aktif membangun semangat pelestarian melalui komunitas dan paguyuban di berbagai daerah.
Beberapa paguyuban perkerisan kini berdiri di Lombok, Sumbawa, dan Sumba, sebagai bagian dari upaya memperluas pelestarian budaya keris di tanah air.
Teknologi dan keris kontemporer
Fadli juga menyebut perkembangan teknologi dan kemudahan akses bahan baku mendukung inovasi di kalangan empu. Ia berharap keris kontemporer semakin dihargai sebagai karya seni dengan pencapaian artistik tinggi.
Dengan penguatan literasi, pembinaan perdagangan, dan dukungan teknologi, pelestarian keris diharapkan tidak hanya menjaga nilai sejarah tetapi juga mendorong perkembangan seni perkerisan ke masa depan.
Berita Terkait
Pemerintah Wajibkan Bahasa Inggris Mulai Kelas 3 pada 2027
Pemerintah akan mewajibkan Bahasa Inggris untuk kelas 3 SD mulai 2027; langkah ini disambut positif untuk me...
Peringatan 21 Mei 2026: Reformasi, Teh, Keragaman dan Aksesibilitas
21 Mei 2026 diperingati sebagai Hari Reformasi Nasional di Indonesia dan beberapa hari internasional seperti...
Indonesia Target Rp63,5 T Investasi Pariwisata di 13 Destinasi 2026
Indonesia targetkan Rp63,5 triliun investasi pariwisata 2026; aliran modal masih terkonsentrasi di Bali, Jak...
Seniman Bali Sulap Kayu Apung jadi Furnitur Kustom, Diekspor ke Yunani
Pengrajin di Tabanan ubah kayu apung jadi karya dan furnitur kustom; beberapa sudah diekspor ke Yunani.
Peringatan 20 Mei: Kebangkitan Nasional, Reformasi, dan Hari Lebah
20 Mei diperingati untuk Hari Kebangkitan Nasional, Hari Reformasi, World Bee Day, dan beberapa peringatan l...
Fadli Zon: Tim Ahli Cagar Budaya di Daerah Masih Minim
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai kekurangan tim ahli di daerah memperlambat penetapan cagar budaya dan m...