Lokal

Limbah Desa Jadi Sumber Ekonomi, Kepala Desa Hutagodang Pulang dari Yunnan

Bagikan:
Adamal Tampubolon usai mengikuti program benchmarking di Yunnan

HUTAGODANG, Tapanuli Selatan — Kepala Desa Hutagodang, Adamal Tampubolon, kembali dari program benchmarking kepala desa di Provinsi Yunnan, Tiongkok (9–16 September 2026). Adamal membawa pulang pelajaran bahwa limbah lokal bisa diolah menjadi produk bernilai jika didukung pengetahuan, teknologi, dan kreativitas.

Belajar langsung di lapangan

Program yang berlangsung 9–16 September itu diselenggarakan bersama Kementerian Desa. Peserta mengikuti kelas dan kunjungan lapangan ke universitas, desa-desa, sentra industri, dan pasar perdagangan di Kunming serta Jinghong, Xishuangbanna.

Rangkaian kunjungan meliputi:

  • Universitas Minzu Yunnan
  • Desa Haiyan, Manyuan, dan Manzhao
  • Pusat perdagangan Luosiwang dan Pasar Bunga Dounan
  • Berbagai sentra pengolahan pertanian dan industri rumah tangga

Praktik pengolahan limbah yang menarik

Adamal mencatat beberapa praktik sederhana namun berdampak ekonomi. Di antaranya, pengolahan limbah ikan menjadi pupuk dan pemanfaatan limbah pohon karet serta ampas padi untuk budidaya jamur. Tradisi pembuatan kertas dari kulit kayu juga dipertahankan sebagai produk bernilai tambah.

Di sana kami melihat langsung bahwa sesuatu yang selama ini dianggap limbah ternyata dapat memiliki nilai ekonomi. Kuncinya ada pada pengetahuan, teknologi, inovasi dan bagaimana masyarakat mengelolanya,

Impak untuk Desa Hutagodang

Adamal menilai pelajaran dari Yunnan relevan untuk wilayah Tapanuli Selatan yang kaya potensi pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, budaya, dan pariwisata. Menurut dia, setiap desa memiliki kekuatan tersendiri, namun perlu inovasi agar potensi tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

Sebagai kepala desa, Adamal berharap praktik pengolahan hasil pertanian dan pemanfaatan limbah dapat diadaptasi sesuai kondisi lokal. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak untuk menjaga kesinambungan inovasi dan membuka akses pasar.

Tidak harus meniru persis apa yang dilakukan di Yunnan. Yang penting adalah mengambil ilmunya, kemudian menyesuaikannya dengan potensi dan kebutuhan desa kita,

Langkah ke depan

Adamal berencana menyosialisasikan hasil pembelajaran kepada masyarakat dan kelompok usaha desa agar ilmu tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Tujuannya sederhana: mengubah potensi desa menjadi produk bernilai tambah dan meningkatkan perekonomian warga.

Semoga ilmu yang kami dapatkan dapat diterapkan dan dikembangkan menjadi potensi desa yang lebih inovatif sehingga memberikan nilai tambah dan meningkatkan perekonomian masyarakat,

Catatan: Adamal Tampubolon juga tercatat sebagai kader Perkumpulan DPC Horas Bangso Batak Tapanuli Selatan dan ikut serta sebagai delegasi dari Sumatera Utara dalam program tersebut.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait