Nasional

Gua Liang Metanduno Ditetapkan Cagar Budaya Nasional

Bagikan:
Lukisan gua purba Liang Metanduno di Kepulauan Muna, Sulawesi Tenggara

Kementerian Kebudayaan menetapkan kawasan prasejarah Gua Liangkabori dan Gua Liang Metanduno di Kepulauan Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional. Pengumuman resmi dijadwalkan awal Agustus 2026 setelah semua tahapan sidang Tim Ahli Cagar Budaya Nasional rampung pekan lalu.

Pengumuman penetapan

Menbud Fadli Zon menyampaikan perkembangan penetapan dalam keterangan pers yang diterima pada 13 Juli 2026. Ia memberi apresiasi kepada pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemdes, pemangku adat, peneliti, dan komunitas yang merawat situs itu lintas generasi.

Menurut Menbud, proses sidang telah selesai dan tinggal pengumuman resmi. Pemerintah pusat akan menjadikan kawasan ini cagar budaya nasional untuk memperkuat perlindungan dan pengelolaan.

Penetapan status sidangnya sudah selesai minggu lalu. Nah, tinggal diumumkan, insya Allah awal Agustus ya sebagai cagar budaya nasional

Temuan arkeologis dan rekor dunia

Situs Liang Metanduno menjadi sorotan internasional setelah hasil riset kolaborasi perguruan tinggi dalam negeri, Griffith University Australia, dan Balai Pelestarian Kebudayaan dipublikasikan pada 22 Januari 2026. Hasil itu kemudian dicatat dalam Guinness Book of Records 2026.

Hasil riset tersebut secara resmi dicatatkan dalam Guinness Book of Records 2026 sebagai lukisan gua non-figuratif tertua di dunia

Pengujian saintifik menggunakan metode laser ablation uranium-series menunjukkan bidang pigmen berukuran sekitar 14 cm x 10 cm berumur sedikitnya 67.800 tahun. Angka ini melampaui rekor sebelumnya di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan, yang berusia 51.200 tahun.

Temuan di Muna juga tercatat 1.100 tahun lebih tua dibanding batas minimum cap tangan purba di Maltravieso, Spanyol, dan jauh melebihi usia lukisan gua Chauvet dan Lascaux.

Implikasi ilmiah dan wacana migrasi manusia

Menbud menilai bukti arkeologis dari Liang Metanduno memberi perspektif baru terhadap sejarah manusia modern di wilayah ini. Ia menyebut temuan berpotensi menantang dominasi teori migrasi tunggal Out of Africa dan membuka kemungkinan pola migrasi dua arah atau multiple traffic, termasuk hipotesis Out of Nusantara atau Out of Sulawesi.

Selama ini ilmu pengetahuan ada satu pengaruh dari kolonialisme, mereka selalu melihat kita ini relatif lebih muda dan pusatnya ada di Eropa sana. Dengan bukti arkeologis yang sangat kuat ini, kita harus berani menantang teori-teori lama itu

Pelestarian dan rencana pengembangan

Kemenbud berkomitmen membangun Pusat Informasi Lukisan Purba di Kepulauan Muna melalui kantor kementerian di Sulawesi Tenggara. Tujuan utamanya adalah mengoptimalkan perlindungan terhadap ancaman degradasi fisik akibat perubahan iklim serta memfasilitasi penelitian dan edukasi.

Gubernur Sulawesi Tenggara menyambut penetapan dan melihat potensi kawasan sebagai destinasi wisata budaya yang terintegrasi dengan penelitian dan pendidikan.

Pemerintah daerah ingin mengembangkan Liangkobori sebagai pusat penelitian, edukasi budaya, dan destinasi wisata berbasis budaya

Dengan status cagar budaya nasional, situs Liang Metanduno dan Liangkabori kini memasuki tahapan baru pengelolaan dan perlindungan yang diharapkan memperkuat penelitian arkeologi dan pengembangan budaya lokal ke depan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait