Kudatuli 1996: PDI Sebut Tragedi Jadi Tonggak Lahirnya Reformasi
SURABAYA — PDI Perjuangan menegaskan penyerbuan Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia pada 27 Juli 1996 atau Kudatuli merupakan peristiwa penting yang membuka jalan menuju Reformasi 1998.
Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi "Merawat Sejarah, Mewariskan Perjuangan" yang digelar DPP PDI Perjuangan di Posko Perjuangan Pandegiling, Surabaya, Jumat malam (24/7/2026). Diskusi itu menempatkan Kudatuli bukan sekadar peristiwa partai, melainkan bagian dari sejarah demokrasi Indonesia.
Peringatan 30 tahun dan makna historis
Bonnie Triyana, Kepala Badan Sejarah DPP PDI Perjuangan, mengatakan peringatan 30 tahun Kudatuli adalah momentum besar. Ia menilai peristiwa itu memiliki makna yang melampaui agenda internal partai.
"Momentum historis 27 Juli 1996 yang kita peringati tahun ini bukan hanya satu tanggal dan bukan hanya satu peristiwa biasa. Ini momentum yang sangat berarti bagi PDI yang kini menjadi PDI Perjuangan, sekaligus bagi bangsa Indonesia dalam perjalanan demokrasinya," ujar Bonnie.
Bonnie menyebut penyerbuan itu menjadi salah satu pemicu menguatnya gerakan pro-demokrasi yang akhirnya mengarah pada lengsernya Soeharto dan Reformasi 1998.
Kudatuli sebagai pemicu bangkitnya perlawanan
Menurut Bonnie, pada era Orde Baru ruang kritik dibatasi dan respons terhadap perlawanan masyarakat sering bersifat represif. Dalam kondisi itu, PDI di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri menjadi simbol harapan bagi publik yang menuntut perubahan.
Dia menegaskan terpilihnya Megawati sebagai Ketua Umum PDI pada 1993 memperkuat simbolisme nasional yang dianggap mengancam rezim saat itu. "Peristiwa itu seperti gerbang yang membuka kanal besar bagi gerakan demokrasi di Indonesia hingga akhirnya berujung pada Reformasi dan lengsernya Soeharto," katanya.
Tuntutan penyelesaian dugaan pelanggaran HAM
Ketua DPP PDI Perjuangan Puti Guntur Soekarno menegaskan Kudatuli harus dicatat dalam sejarah nasional. Menurutnya, peristiwa itu milik seluruh bangsa dan wajib diketahui generasi penerus.
"Kudatuli ini bukan hanya milik PDI Perjuangan. Ini milik bangsa Indonesia, milik rakyat Indonesia, dan harus diketahui oleh generasi penerus kita," kata Puti.
Puti juga menyatakan peringatan 30 tahun mengingatkan bahwa penyelesaian dugaan pelanggaran hak asasi manusia dalam tragedi ini belum tuntas. Ia menuntut adanya political will dari pemerintah untuk menuntaskan kasus tersebut.
"Ini merupakan salah satu bentuk pelanggaran berat yang sampai hari ini belum bisa diungkapkan. Karena itu diperlukan political will dari pemerintah agar persoalan hak asasi manusia dalam tragedi Kudatuli dapat diselesaikan," ujar Puti.
Implikasi dan pandangan ke depan
Peringatan ini menggarisbawahi pentingnya pengakuan sejarah dan penuntasan masalah hak asasi sebagai bagian dari proses demokratisasi. Diskusi di Surabaya menegaskan bahwa narasi Kudatuli harus dicatat dalam catatan sejarah nasional agar menjadi pelajaran bagi generasi mendatang.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
DPRD Dukung Pemberdayaan Gen Z Berbasis Kampung di Surabaya
DPRD Surabaya dukung program pemberdayaan Gen Z berbasis kampung; tekan kebutuhan pendampingan agar usaha ri...
PDI Perjuangan Minta Raperda Desa di Madiun Beri Kepastian
Fraksi PDI Perjuangan minta Raperda Desa Madiun beri kepastian kewenangan, anggaran, pengawasan, dan kesejah...
Novita Dorong Trenggalek Jadi Rumah Jaranan Dunia
Novita Hardini dorong FJTT ke-30 dan status KEN 2026 dijadikan momentum menjadikan Trenggalek rumah jaranan...
KONI Dorong Mini Soccer Trenggalek Jadi Sumber Talenta Porprov 2027
KONI Trenggalek mendorong mini soccer jadi sumber talenta Porprov Jatim 2027 lewat Turnamen Piala Dispora 20...
Pramono Anung ke New York Hadiri U20 dan Bertemu Wali Kota NYC
Gubernur DKI Pramono Anung berangkat ke New York (17/9/2026) untuk U20 Mayors Summit dan pertemuan bilateral...
PDI Perjuangan Tuban Lantik Pengurus Ranting Senori dan Parengan
DPC PDI Perjuangan Tuban melantik pengurus ranting Senori dan Parengan pada 19 September 2026, menekankan di...