Politik

Didik Nurhadi Kenang Guruh: Tolak Politik Uang dan Jaga PIP

Bagikan:
Didik Nurhadi mengenang Guruh Soekarnoputra dan pesan tentang PIP serta penolakan politik uang

BLITAR — Didik Nurhadi mengenang kedekatannya dengan Guruh Soekarnoputra sejak dipercaya menjadi Ketua Barisan Guruh Sukarnoputra (BAGUS) pada pertengahan 2014. Ia menyoroti pesan almarhum tentang penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) dan keteguhan Guruh menolak praktik politik uang, terutama menjelang Pemilu Legislatif 2019. Kenangan itu disampaikan Didik saat menyampaikan duka atas wafatnya Guruh pada 26 September 2026.

Pesan tegas soal penyaluran PIP

Didik menjelaskan salah satu tugasnya saat mendampingi Guruh adalah mengawal penyaluran bantuan pendidikan PIP untuk siswa SD, SMP, hingga SMA/SMK di Jawa Timur. Ia mengatakan Guruh selalu menekankan bahwa bantuan harus sampai utuh kepada penerima tanpa potongan.

"Pesan beliau sangat jelas, beasiswa PIP bertujuan memberikan akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia, maka jangan pernah menarik atau memotong beasiswa tersebut. Itu prinsip yang selalu beliau pegang," ujar Didik.

Menurut Didik, prinsip ini mencerminkan kepedulian Guruh terhadap pendidikan dan upaya memperluas akses bagi pelajar kurang mampu. Pendampingan BAGUS juga berkaitan dengan tugas Guruh di Komisi X DPR RI yang fokus pada bidang pendidikan dan kebudayaan.

Menolak politik uang di Dapil Jatim VI

Kenangan lain menguat saat persiapan Pemilu Legislatif 2019. Guruh berpindah daerah pemilihan dari Dapil Jawa Timur I (Surabaya-Sidoarjo) ke Dapil Jawa Timur VI (Kediri, Blitar, Tulungagung). Didik mengaku memberi laporan tentang praktik politik uang yang marak di daerah baru tersebut.

"Saya sampaikan kepada beliau, bahwa di Dapil Jatim VI situasinya berbeda dengan Dapil Jatim I, karena marak politik uang, ada istilah sangu untuk mencoblos yang sudah terbiasa sejak pilkades," kata Didik.

Respons Guruh menjadi momen yang paling membekas. Dengan tenang Guruh menegaskan prinsipnya: lebih baik tidak menjadi anggota DPR daripada meraih dukungan lewat uang.

"Mas Didik, saya putra Bung Karno. Lebih baik saya tidak jadi DPR RI daripada saya money politic," ujar Guruh, menurut Didik.

Warisan politik, seni, dan kebudayaan

Guruh dikenal luas sebagai seniman, budayawan, dan politisi PDI Perjuangan. Kiprahnya di parlemen banyak terkait pendidikan dan kebudayaan. Bagi Didik, sikap sederhana dan teguh Guruh menjadi teladan bagi kolega di DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.

Didik menyatakan kehilangan mendalam atas wafatnya Guruh pada 26 September 2026, pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, pada usia 73 tahun. Ia berharap amal ibadah dan budi baik almarhum diterima dan mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.

Kenangan tentang integritas dan komitmen Guruh terhadap pendidikan serta penolakan terhadap politik uang menjadi catatan penting bagi rekan-rekannya dan generasi pengurus partai berikutnya.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait