Nasional

Menbud Fadli Zon Minta Karnaval Pekalongan Jaga Nilai Maulid

Bagikan:
Penampilan karnaval bernuansa satanik yang memicu kontroversi di Pekalongan

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menanggapi polemik pertunjukan pada Kembang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan yang viral, Selasa, 29 September 2026. Ia menilai penampilan yang menampilkan simbol menyerupai iblis dan ritual itu merupakan ekspresi lokal panitia, namun mengingatkan penyelenggara untuk menjaga nilai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kronologi dan unsur kontroversial

Video pertunjukan SKNC tersebar luas di media sosial. Dalam cuplikan tampak kostum menyeramkan, kitab berlambang mata satu, obor, pentagram terbalik, hingga adegan penyembelihan kambing.

Salah satu tim yang tampil kemudian menyatakan tidak memahami konteks ritual yang dituduhkan sebagai satanik dan menyebut konsep itu terinspirasi dari referensi di YouTube. Penyebaran video memicu keresahan di kalangan masyarakat setempat.

Reaksi Menteri Kebudayaan

Di Lobby Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta Selatan, Fadli Zon menegaskan pentingnya keseimbangan antara kreativitas dan konteks religi acara. Ia mengingatkan agar makna peringatan Maulid tidak tergerus oleh interpretasi yang menimbulkan kontroversi.

"Itu memang ekspresi lokal dari panitia untuk memeriahkan acara, tetapi harus tetap berpijak pada nilai Maulid Nabi Muhammad. Jangan sampai pertunjukan itu menimbulkan keresahan masyarakat atau memunculkan beragam penafsiran yang justru mengaburkan makna peringatan Maulid tersebut,"

"Kalau disebut festival Maulid, pertunjukan itu mungkin kurang cocok, walaupun maksud panitia hanya untuk menciptakan keramaian acara semata. Seharusnya, penampilan lebih menonjolkan keteladanan Nabi Muhammad dan nilai-nilai positif dalam memperingati hari kelahiran beliau yang penuh makna."

Penilaian MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyoroti acara tersebut. Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, mengatakan atraksi bernuansa menyeramkan dan simbol-simbol yang mendekati satanik bertentangan dengan esensi ajaran Islam.

"Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi,"

Imbauan dan perspektif ke depan

Kementerian Kebudayaan mengingatkan bahwa kreativitas dalam perayaan budaya harus mempertimbangkan konteks acara dan sensitivitas masyarakat setempat. Pesan ini menjadi catatan bagi penyelenggara agar kegiatan serupa tetap meriah namun selaras dengan nilai yang ingin dirayakan.

Kasus SKNC menunjukkan perlunya komunikasi lebih baik antara panitia, tokoh agama, dan masyarakat. Ke depan, penyelenggara diharapkan memilih konsep yang mendidik dan menonjolkan pesan positif kelahiran Nabi Muhammad.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait