Pratikno Dorong Gerakan Wujudkan Indonesia Bebas Timbal
Menko PMK Pratikno mendorong gerakan bersama untuk mewujudkan Indonesia bebas dari paparan timbal. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Senin, 14 September 2026. Ia menekankan perlunya edukasi, peningkatan pengetahuan, dan perubahan perilaku masyarakat selain regulasi.
Gerakan bersama dan tujuan
Pratikno menilai pengendalian paparan timbal tidak cukup hanya dengan membuat aturan. Dibutuhkan gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
"Jangan hanya regulasi. Masyarakat harus paham apa bahayanya, dari mana sumber paparannya, dan apa yang bisa dilakukan untuk menguranginya,"
Ia menegaskan gerakan itu harus mengajak pemerintah, pelaku usaha, akademisi, media, dan komunitas untuk bertindak terpadu. Tujuannya adalah mengurangi risiko paparan timbal secara berkelanjutan.
RAN Indonesia Bebas Timbal sebagai instrumen
Pratikno mendorong agar RAN Indonesia Bebas Timbal memasukkan edukasi sebagai komponen utama. Edukasi dimaksudkan agar masyarakat mampu mengenali sumber paparan dan langkah mitigasinya.
"Yang ingin kita bangun bukan hanya regulasi, tetapi gerakan bersama untuk memperkuat pengendalian paparan timbal. Gerakan ini harus melibatkan pemerintah dan masyarakat agar perlindungan dari bahaya timbal dapat dilakukan secara berkelanjutan,"
RAN juga diharapkan menjadi kerangka untuk menyatukan langkah perlindungan, terutama bagi kelompok yang paling rentan terhadap dampak timbal.
Kelompok rentan yang perlu dilindungi
Pratikno menegaskan fokus perlindungan harus diarahkan pada kelompok yang berisiko tinggi. Kelompok tersebut antara lain:
- Anak-anak
- Ibu hamil
- Pekerja yang terpapar
- Masyarakat yang tinggal di lingkungan berisiko
Perlindungan ini mencakup upaya pencegahan di rumah, tempat kerja, dan lingkungan publik.
Data surveilans dan bukti risiko
Berdasarkan Surveilans Kadar Timbal dalam Darah (SKTD) BRIN 2025, sekitar 15 persen atau satu dari tujuh anak memiliki kadar timbal dalam darah minimal 5 mikrogram per desiliter. Temuan lain menunjukkan anak yang tinggal di rumah dengan cat mengelupas memiliki risiko 61 persen lebih tinggi mengalami kadar timbal darah minimal tersebut.
Data ini menegaskan urgensi intervensi yang bersifat preventif dan berbasis komunitas untuk menurunkan paparan.
Praktik pencegahan yang berkelanjutan, kolaborasi multisektor, dan kampanye edukasi skala luas menjadi langkah kunci untuk mewujudkan Indonesia bebas timbal dalam jangka panjang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...