IHSG Berisiko Terkoreksi, Asing Net Sell Rp1,37 T
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami koreksi pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, menyusul masih kuatnya aksi jual oleh investor asing dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Hal ini disampaikan Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, yang memproyeksikan level support dan resistansi IHSG untuk hari itu.
Proyeksi pergerakan IHSG
Fanny memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang 6.000–6.100 sebagai level support dan 6.200–6.300 sebagai level resistansi. Proyeksi ini muncul setelah penutupan Selasa, 2 Juni 2026, ketika IHSG tercatat naik 1,11% ke 6.195,42.
"IHSG akan bergerak pada rentang 6.000-6.100 untuk level support."
Aliran modal asing
Meskipun indeks menguat pada penutupan sebelumnya, pasar masih mencatat net sell asing yang signifikan. Fanny menyebutkan aliran keluar modal asing mencapai Rp1,37 triliun. Saham yang paling banyak dijual oleh investor asing adalah TPIA, ASII, MAPI, BUVA, dan BMRI.
Sentimen global: Timur Tengah, AI, dan harga minyak
Perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi sentimen negatif yang menekan pasar. Laporan media soal Iran menghentikan negosiasi dengan AS dan rencana penutupan Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga minyak. Harga minyak Brent bertahan di sekitar USD96 per barel.
Sementara itu, peningkatan minat pada saham berbasis kecerdasan buatan (AI) menciptakan sentimen positif. Contoh yang muncul di pasar AS: saham Alphabet turun hampir 4% setelah pengumuman rencana penghimpunan dana USD80 miliar melalui penjualan saham untuk pengembangan AI, sedangkan Marvell Technology melesat 32% setelah komentar CEO Nvidia tentang potensi kapitalisasi pasar USD1 triliun.
Kinerja bursa internasional dan implikasi ke Asia
Bursa AS mencetak rekor tertinggi baru, dengan S&P 500 naik 0,13%, Dow Jones menguat 0,45%, dan Nasdaq naik 0,03%. Fanny menilai aksi di Wall Street dipengaruhi oleh pergerakan saham teknologi.
"Kenaikan Wall Street terjadi di tengah pergerakan beragam saham teknologi,"
Di Asia, pergerakan pasar beragam. Indeks Nikkei 225 turun 0,3%, Kospi naik 0,15%, Hang Seng meningkat 2,5%, dan CSI 300 di Tiongkok naik 1,5%. Kondisi ini mencerminkan adanya pengaruh ganda antara ketidakpastian geopolitik dan optimisme pada sektor teknologi.
Prospek dan catatan bagi investor
Dengan tekanan jual asing yang masih berlangsung dan sentimen global yang berimbang, IHSG menghadapi risiko koreksi jangka pendek. Investor disarankan memantau aliran modal asing, perkembangan geopolitik, serta harga minyak dan kinerja saham teknologi sebagai penentu arah pasar selanjutnya.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PT Vale Luncurkan Kelas Konservasi untuk Duta Lingkungan
PT Vale meluncurkan Kelas Konservasi di Luwu Timur untuk melatih 50 pelajar menjadi duta lingkungan selama J...
Sandiaga Investasi di Mutuagung Lestari, Bidik Bisnis Sertifikasi
Sandiaga Uno investasikan pada PT Mutuagung Lestari untuk memperkuat layanan sertifikasi yang mendukung daya...
Regulasi dan Insentif Fiskal Kunci Pengembangan Industri Menengah
Regulasi jelas dan jaminan insentif fiskal dinilai penting untuk mempercepat pengembangan industri menengah...
Bisnis Kopi Solo Melaju Seiring Perubahan Gaya Hidup
Bisnis kopi di Solo berkembang karena gaya hidup, wisata, dan inovasi UMKM; peluang besar bagi kedai lokal y...
Harga Emas Antam Turun Tajam ke Rp2.605.000/gram
Harga emas Antam 24 Juli 2026 turun ke Rp2.605.000/gram, minus Rp35.000; buyback Rp2.345.000/gram. Ketentuan...
INALUM Buka Program Magang, Ajak Talenta Muda Belajar di Industri
INALUM membuka program magang untuk talenta muda belajar langsung di industri nasional, memperkuat keterampi...