Hiburan

Mengenang 5 Karya Legendaris Guruh Soekarnoputra

Bagikan:
Guruh Soekarnoputra saat tampil sebagai musisi dan seniman

Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, dalam usia 73 tahun setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Berita wafatnya dikonfirmasi oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di rumah duka Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebagai seniman dan komponis, Guruh meninggalkan warisan musik dan tari yang masih dikenang generasi kini.

Hari ini keluarga besar PDIP sungguh sangat kehilangan atas dipanggilnya Mas Guruh Soekarnoputra dalam usia 73 tahun

Berikut lima karya Guruh yang paling legendaris dan berpengaruh bagi musik populer Indonesia:

  • Guruh Gipsy (album)
  • "Kala Sang Surya Tenggelam"
  • "Galih dan Ratna"
  • "Anak Jalanan"
  • "Mahadaya Cinta"

Guruh Gipsy — Album pionir penggabungan musik tradisional dan modern

Guruh Gipsy adalah album kolaborasi Guruh dengan grup Gipsy yang terdiri atas Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Roni Harahap, dan Oding Nasution. Album ini menggabungkan instrumen modern dengan gaya musik tradisional Jawa dan Bali sehingga menghasilkan nuansa baru pada era itu.

Pekerjaan ini berisi tujuh lagu dan dibuka oleh "Indonesia Maharddhika," sebuah komposisi megah bergaya British-prog. Pada 2007, album ini dipilih sebagai salah satu album Indonesia terbaik sepanjang masa oleh sebuah daftar kritik musik nasional.

"Kala Sang Surya Tenggelam" — Lagu yang bertransformasi lintas generasi

Lagu ini pertama kali dinyanyikan oleh Dhenok Wahyudi sebagai soundtrack film Ali Topan Anak Jalanan (1977). Chrisye kemudian merekamnya dalam album ikoniknya Sabda Alam (1978) dan membuat lagu itu sangat dikenal publik.

Hampir lima dekade kemudian, lagu ini diaransemen ulang oleh Nadin Amizah untuk soundtrack serial Gadis Kretek yang tayang di platform streaming, menunjukkan daya tahan emosional lagu tersebut.

"Galih dan Ratna" — Ikon percintaan remaja

"Galih dan Ratna" pertama dinyanyikan oleh Iromy Nursaid and the Kid Brothers dan muncul dalam film Gita Cinta dari SMA (1979). Sejumlah peran film, termasuk Rano Karno sebagai Galih dan Yessy Gusman sebagai Ratna, membantu mengukuhkan lagu ini sebagai simbol kisah cinta sekolah di budaya pop Indonesia.

Pada 1980, Chrisye juga mengaransemen lagu ini untuk soundtrack film lain, sehingga melodinya makin melekat pada publik.

"Anak Jalanan" — Dari novel ke layar dan soundtrack

Inspirasi lagu ini datang dari novel Teguh Esha, Ali Topan Anak Jalanan, yang kemudian diangkat ke layar lebar. Guruh berperan sebagai ilustrator musik untuk film tersebut, dan Chrisye turut memopulerkan lagu ini melalui album Sabda Alam (1978).

"Mahadaya Cinta" — Lagu cinta modern

Berkembang di era lebih baru, "Mahadaya Cinta" dinyanyikan oleh Kris Dayanti pada 2004 sebagai salah satu trek utama dalam album Cahaya. Lagu ini mengangkat tema tentang kekuatan cinta yang menyatukan dan memberi kedamaian antarmanusia.

Warisan Guruh mencakup eksplorasi ragam musik tradisional dan modern, kolaborasi lintas artis, serta kontribusi pada soundtrack film yang membentuk budaya populer Indonesia. Karya-karyanya terus diputar ulang dan diinterpretasikan ulang, menegaskan posisi Guruh sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah musik Indonesia.

Tiara Permata
Penulis
Tiara Permata

Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.

Berita Terkait